Dari sisi neraca, kondisi likuiditas juga perlu diperhatikan. Posisi kas dan setara kas menyusut 26% menjadi USD 1,4 miliar. Di sisi lain, utang berbunganya justru melonjak 43% ke level USD 775 miliar. Lonjakan utang ini sejalan dengan realisasi belanja modal yang membengkak 43% menjadi USD 797 juta.
Lantas, kemana uangnya dialirkan? Sebagian besar ternyata dipakai untuk investasi di sektor aluminium, lewat PT Kalimantan Aluminium Industry. Saat ini, smelter milik mereka sudah mulai memasuki tahap pengujian dan commissioning sebagian. Selain itu, Alamtri juga menggelontorkan dana untuk sejumlah proyek infrastruktur. Mulai dari peningkatan jalan hauling tahap pertama, pembuatan konveyor pemuatan tongkang, sampai pembangunan mess karyawan di PT Maruwai Coal. Bahkan, persiapan untuk tahap kedua peningkatan jalan hauling juga sudah dijalankan.
Di tengah semua tantangan keuangan ini, sisi operasional justru menunjukkan tren positif. Produksi batu bara naik 12% menjadi 7,41 juta ton, diikuti penjualan yang juga tumbuh 12% ke angka 6,28 juta ton. Kenaikan ini sejalan dengan kinerja PT Maruwai Coal dan PT Lahai Coal. Aktivitas pengupasan overburden pun ikut meningkat 12% menjadi 26,33 juta bcm, dengan nisbah kupas 3,55 kali.
Singkatnya, tahun 2025 adalah tahun yang berat bagi Alamtri. Mereka seperti berjalan di dua medan berbeda: operasional yang kuat, namun dihantam badai di lini keuangan.
Artikel Terkait
Laba Bersih BSDE Anjlok 42% pada 2025, Meski Penjualan Tumbuh
Laba Bersih Adaro Anjlok 37% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara Global
PT Liqun Investment Indonesia Resmi Akuisisi Saham Mayoritas KOKA
BNBR Terbitkan 86,7 Miliar Saham Baru, Dana Rights Issue Utamanya untuk Bayar Utang