Bakrie & Brothers (BNBR) akhirnya merilis detail lebih lanjut soal rencana rights issue-nya. Dalam prospektus tambahan yang terbit Jumat lalu, perusahaan konglomerasi itu mengungkap akan menerbitkan 86,7 miliar saham biasa seri E. Angka ini sedikit di bawah total 90 miliar saham yang sebelumnya sudah dapat lampu hijau dari para pemegang saham dalam RUPSLB akhir Februari.
Rasio yang ditetapkan adalah 2:1. Artinya, untuk setiap dua saham BNBR yang dimiliki, investor berhak membeli satu saham baru. Bagi yang memilih tidak ikut serta, bersiaplah melihat kepemilikan sahamnya terdilusi cukup signifikan, sekitar sepertiganya.
Lalu, siapa saja yang akan mendapat jatah hak membeli (HMETD) terbesar? Port Fraser International Ltd menempati urutan pertama dengan 21,07 miliar HMETD. Disusul Fountain City Investment Ltd (19,22 miliar), UOB Kay Hian Pte Ltd (7,3 miliar), Eurofa Capital Investment Ltd (5,8 miliar), dan Levoca Enterprise Ltd (4,6 miliar). Namun begitu, belum bisa dipastikan apakah semua pihak ini akan benar-benar menebus haknya. Situasinya masih menunggu.
Meski begitu, manajemen BNBR tampaknya sudah menyiapkan skenario terburuk. Mereka memastikan ada standby buyer atau pembeli siaga yang siap menampung sisa saham yang tak laku. Sayangnya, identitas sang penyelamat ini belum diungkap dalam dokumen prospektus yang beredar.
Nah, uang hasil rights issue ini rencananya bakal dipakai untuk apa? Sebagian besar, ternyata untuk bayar utang. Rinciannya, sekitar Rp4,36 triliun dialokasikan ke anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI), khusus untuk melunasi kewajiban pada Hartman International Pte Ltd dan PT Bank Nationalnobu Tbk.
Tak cuma itu. BNBR juga akan pakai dana segar ini untuk melunasi utang ke PT Bank Mayapada International Tbk senilai Rp1,09 triliun. Lalu, ada lagi alokasi Rp300 miliar yang akan dipinjamkan ke PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) guna membangun rest area di Tol Cibitung-Cimanggis. Sisa dananya? Untuk modal kerja.
Soal harga pelaksanaan, ini masih jadi tanda tanya besar. BNBR belum mengumumkannya, dan kemungkinan baru akan jelas di prospektus final nanti. Tapi, kalau dilihat dari total kebutuhan dana yang diungkap, harga saham rights issue ini diperkirakan hanya sekitar Rp66 per lembar. Jauh lebih murah ketimbang harga saham BNBR di pasar yang kini berada di level Rp155. Bayangkan selisihnya.
Untuk jadwalnya, perusahaan sudah punya timeline indikatif. Perdagangan saham cum right akan berakhir pada 20 Mei 2026. Sementara itu, tanggal pencatatan bagi pemegang hak dijadwalkan mulai 26 Mei 2026. Masih ada waktu bagi investor untuk mempertimbangkan langkahnya.
Semua ini adalah langkah besar BNBR untuk memperbaiki struktur keuangannya. Kita lihat saja nanti respons pasar.
Artikel Terkait
Prapenjualan Kota Deltamas Kuartal I 2026 Tembus Rp561,4 Miliar, Ditopang Lahan Industri dan Data Center
Astra Setujui Dividen Rp15,6 Triliun, Rp292 per Saham Cair 25 Mei 2026
Pemerintah Kawal Sertifikasi Profesi bagi 15 Ribu Peserta Program Magang Nasional Batch I
Nokia Naikkan Target Bisnis AI Setelah Laba Kuartal I Tembus Rp5,6 Triliun