Meski begitu, manajemen BNBR tampaknya sudah menyiapkan skenario terburuk. Mereka memastikan adanya standby buyer atau pembeli siaga yang siap menampung sisa saham yang tak ditebus. Sayangnya, identitas sang penyelamat ini belum diungkap dalam dokumen prospektus yang beredar.
Lalu, untuk apa uang hasil rights issue yang terkumpul nanti? Tujuannya jelas: bayar utang. Sebagian besar dananya, Rp4,36 triliun, akan dialirkan ke anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI), khusus untuk melunasi kewajiban. Penerimanya adalah Hartman International Pte Ltd (Rp3,66 triliun) dan PT Bank Nationalnobu Tbk (Rp700 miliar).
Tak cuma itu. BNBR juga akan pakai dana segar ini untuk melunasi utang ke PT Bank Mayapada International Tbk senilai Rp1,09 triliun. Ada juga alokasi Rp300 miliar yang akan dipinjamkan ke PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) guna membangun rest area di Tol Cibitung-Cimanggis. Sisa dananya? Untuk modal kerja.
Satu hal penting yang masih jadi misteri adalah harga tebus rights issue-nya. BNBR belum mengumumkan angka pastinya, dan kemungkinan baru akan terungkap di prospektus final nanti. Namun, jika merujuk pada total kebutuhan dana yang diungkap, analis memperkirakan harga pelaksanaannya sekitar Rp66 per saham. Angka ini jauh lebih rendah ketimbang harga saham BNBR di pasar yang kini berada di level Rp155.
Terakhir soal jadwal. Perusahaan telah mengeluarkan kalender indikatif. Perdagangan saham BNBR dengan hak (cum right) akan berakhir pada 20 Mei 2026. Sementara itu, tanggal pencatatan bagi pemegang hak dijadwalkan mulai 26 Mei 2026. Tinggal tunggu eksekusinya.
Artikel Terkait
Laba Bersih Adaro Anjlok 37% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara Global
Laba Bersih ADRO Anjlok 68% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara dan Spin-off AADI
PT Liqun Investment Indonesia Resmi Akuisisi Saham Mayoritas KOKA
BNBR Terbitkan 86,7 Miliar Saham Baru, Dana Rights Issue Utamanya untuk Bayar Utang