Sementara itu, pasar rokok Indonesia sendiri terus berubah. Polanya bergeser.
“Pasar rokok Indonesia kian bergeser dari sekadar mengejar volume penjualan menuju fokus pada komposisi produk dan keterjangkauan harga, seiring konsumen yang semakin sensitif terhadap harga,” kata analis Sucor.
Data tahun 2025 membuktikannya. Volume penjualan industri turun 3 persen menjadi 307,8 miliar batang. Yang menarik, pangsa rokok kretek mesin (SKM) menyusut, sementara segmen kretek tangan (SKT) yang lebih murah justru naik. Tren ini menunjukkan konsumen cenderung memilih turun kelas (downtrading), bukan berhenti merokok sama sekali efek dari kenaikan cukai di masa lalu.
Dengan semua faktor ini stabilitas kebijakan, potensi pemulihan volume dari pengetatan rokok ilegal, dan kenaikan upah Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor rokok. Meski valuasinya di atas rata-rata historis, sektor ini masih menarik dengan imbal hasil dividen sekitar 5,5 persen.
Dan pilihan utamanya jatuh pada WIIM. Emiten ini dinilai punya proposisi nilai yang kuat. Harganya sekitar 31,2 persen lebih murah dibanding pesaing, plus punya peluang tumbuh lebih besar di segmen SKT yang sedang naik daun karena posisi tarifnya yang masih menguntungkan.
Perlu diingat, keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Laba Bersih BSDE Anjlok 42% pada 2025, Meski Penjualan Tumbuh
Laba Bersih Adaro Anjlok 37% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara Global
Laba Bersih ADRO Anjlok 68% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara dan Spin-off AADI
PT Liqun Investment Indonesia Resmi Akuisisi Saham Mayoritas KOKA