Laporan kinerja BRI untuk tahun 2025 akhirnya dirilis, dan hasilnya cukup menggembirakan. Bank pelat merah itu berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp57,13 triliun hingga akhir Desember. Angka ini, tentu saja, bukan datang tiba-tiba. Ia ditopang oleh perbaikan fundamental dan serangkaian program transformasi yang digeber perseroan sepanjang tahun.
Dalam konferensi pers virtual yang digelar Jumat lalu (27/2/2026), Direktur Utama BRI Hery Gunardi tampak optimis.
"Dengan berbagai inisiatif transformasi yang telah berjalan dengan baik, kinerja keuangan BRI hingga akhir 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan," ujarnya.
Optimisme itu punya dasar. Lihat saja pertumbuhan asetnya, yang melesat 7,1% menjadi Rp2.135 triliun. Tapi yang lebih mencolok adalah pertumbuhan kredit. BRI berhasil menyalurkan pinjaman hingga Rp1.521 triliun, naik 12,3% dari tahun sebelumnya. Hebatnya, angka ini melampaui pertumbuhan rata-rata industri perbankan nasional yang 'hanya' 9,6%. Fokusnya tetap tidak berubah: segmen UMKM.
Dana Murah Jadi Penopang
Di sisi pendanaan, ceritanya juga positif. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,4%. Namun yang patut disorot adalah pertumbuhan dana murah atau CASA mencapai 12,7%! Kenaikan ini didorong giro yang melonjak 19,7% dan tabungan yang naik 7,9%. Alhasil, rasio CASA kini berada di level 70,6%. Struktur pendanaan yang lebih efisien ini langsung terlihat dampaknya: biaya dana turun jadi 2,9%, membaik dari posisi 3,1% di periode sama tahun sebelumnya.
Likuiditas Tak Perlu Dikhawatirkan
Lalu, bagaimana dengan likuiditas? Menurut Farida Thamrin, Direktur Treasury and International Banking BRI, kondisinya sangat memadai. Rasio LDR di angka 91,4% dinilai masih memberi ruang yang sehat untuk ekspansi. Indikator likuiditas lain pun kuat: LCR 136,9% dan NSFR 117,7%, jauh di atas batas aman regulator.
"Kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas terus menjadi fondasi utama bagi BRI dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur pendanaan yang lebih optimal," jelas Farida.
Modal? Jelas kuat. CAR BRI mencapai 23,52%, jauh lebih tinggi dari ketentuan minimum. Ini sinyal bahwa kapasitas untuk berkembang dan menahan guncangan risiko masih sangat besar.
Kualitas Kredit yang Terjaga
Nah, ini yang sering jadi pertanyaan: bagaimana kualitas pinjamannya? Ternyata ada perbaikan. Loan at Risk (LAR) turun dari 10,7% menjadi 9,6%. Sementara NPL relatif terjaga di 3,07% angka yang cukup bagus mengingat portofolio BRI didominasi segmen UMKM yang sifatnya granular dan berisiko tinggi.
Pencadangan juga tak main-main. NPL coverage ratio BRI mencapai 178,1%, level yang sangat konservatif dan tentunya memperkuat kepercayaan investor.
Secara keseluruhan, fundamental BRI di tahun 2025 terlihat kokoh. Dengan kondisi ini, bank milik negara itu masih punya ruang cukup luas untuk terus mendorong kredit produktif dan, pada akhirnya, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Tantangan ke depan tentu ada, tapi setidaknya modal awalnya sudah solid.
Artikel Terkait
Pakistan Kirim Delegasi Tingkat Tinggi untuk Lanjutkan Mediasi Iran-AS
Pemerintah Permudah Bea Cukai Barang Bawaan Jemaah Haji Lewat PMK Terbaru
Arsenal Lolos ke Semifinal Liga Champions Meski Hanya Imbang Lawan Sporting
Arsenal Lolos ke Semifinal Liga Champions Usai Imbang Lawan Sporting Lisbon