Di sisi eksternal, ketahanan ekonomi Indonesia juga kuat. Neraca perdagangan kita surplus terus menerus selama 66 bulan! Hingga Oktober 2025, nilai surplusnya mencapai USD 35,88 miliar. Realisasi investasi periode Januari-September 2025 juga menggairahkan, tumbuh 13,7 persen menjadi Rp 1.434,3 triliun. Penyaluran kredit perbankan ikut menguat, tumbuh positif 7,36 persen per Oktober.
Tak Hanya Cepat, Tapi Juga Berkualitas
Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas mulai terlihat dari membaiknya indikator kesejahteraan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik jadi 70,59 persen pada Agustus lalu. Penciptaan lapangan kerja didorong lewat penguatan sektor riil dan berbagai program pembiayaan seperti KUR, Kredit Alsintan, hingga program magang bagi fresh graduate.
Hasilnya? Tingkat Pengangguran Terbuka berhasil ditekan menjadi 4,85 persen. Angka kemiskinan nasional pun turun ke 8,47% di Maret 2025, dengan kemiskinan ekstrem yang nyaris tersentuh, hanya 0,85%. Ketimpangan pendapatan juga menunjukkan perbaikan, rasio gini kini di level 0,375.
Dukungan Stimulus yang Berlanjut
Pemerintah tak berhenti mengkoordinasikan beragam stimulus dan paket kebijakan. Bantuan Pangan, Kartu Sembako tambahan, Subsidi Upah, dan BLTS Kesra terus disalurkan. Dukungan juga diberikan untuk mobilitas masyarakat lewat diskon transportasi, insentif fiskal bagi pekerja dan UMKM, serta percepatan deregulasi via sistem OSS terintegrasi.
“Ke depan, Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan perekonomian nasional, memastikan sinergi lintas sektor berjalan efektif, serta menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi yang stabil, inklusif, dan berdaya saing,” pungkas Haryo menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$116 per Barel Pekan Depan
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan