Di Balik Suara Misterius Gunung Jawa Barat: Kisah Burung Kedasih yang Tak Pernah Terlihat

- Kamis, 22 Januari 2026 | 23:06 WIB
Di Balik Suara Misterius Gunung Jawa Barat: Kisah Burung Kedasih yang Tak Pernah Terlihat

Menurut Prof. Ani Mardiastuti dari IPB University, suara tersebut merupakan panggilan kawin burung jantan. Fungsinya untuk menandai wilayah sekaligus menarik perhatian betina. Dalam dunia burung, strategi seperti ini hal yang wajar.

Cara berkembang biaknya pun unik. Burung kedasih tidak membangun sarang sendiri. Dia adalah parasit sarang.

Telurnya diletakkan di sarang burung lain yang lebih kecil, seperti cinenen atau perenjak. Telur kedasih mirip bentuk dan warnanya dengan telur inang, sehingga sulit dikenali. Begitu menetas, piyik kedasih punya insting untuk menyingkirkan telur atau anak burung lain dari sarang. Alhasil, si induk inang tanpa sadar membesarkan anak yang bukan darah dagingnya sendiri.

Dari sisi makanan, kedasih adalah pemakan serangga. Menu hariannya ulat, belalang, laba-laba, bahkan kadal kecil.

Dr. Yeni Aryani Mulyani, juga dari IPB, menyebut peran ekologis burung ini penting. Di lanskap pertanian, kehadirannya bisa membantu mengendalikan populasi hama secara alami. Sayangnya, peran ini sering tak disadari.

Status konservasinya saat ini masih aman. IUCN mendaftarkannya dalam kategori Least Concern. Populasinya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, terbilang stabil. Tapi tentu saja, ancaman seperti alih fungsi lahan dan kerusakan habitat tetap mengintai perlahan-lahan.

Di luar fakta ilmiah, burung ini hidup kuat dalam mitos masyarakat Jawa Barat. Salah satunya, burung ini dianggap jelmaan seorang lelaki yang patah hati karena kekasihnya direbut anak raja. Kisah ini bahkan tercatat dalam naskah Sunda lama, Ki Santri Gagal.

Suaranya yang melengking lalu dipahami sebagai panggilan kesedihan yang tak pernah usai.

Ada juga mitos yang menyebutnya sebagai hantu perempuan yang meninggal sebelum menikah. Istilah “siit” sendiri tercatat dalam kamus bahasa Sunda. Mitos lain mengaitkan suaranya dengan kabar kematian, terutama jika terdengar dekat permukiman. Bahkan di siang hari bolong, suaranya dikatakan bisa membuat bulu kuduk merinding. Dan yang paling konsisten: dia bersuara tanpa pernah menampakkan diri, seperti makhluk tak kasatmata.

Pada akhirnya, burung kedasih berdiri di persimpangan yang menarik. Dia adalah makhluk biologis dengan peran ekologis yang nyata, sekaligus simbol kultural yang hidup dalam imajinasi masyarakat. Suara yang sama bisa dimaknai secara ilmiah dan mitologis, tanpa harus saling menafikan.

Dan di hutan-hutan Jawa Barat, suara itu terus terdengar. Menjadi bagian dari napas panjang alam pegunungan yang tak pernah benar-benar diam.


Halaman:

Komentar