Dampak jangka pendeknya langsung terasa pada kehidupan sosial dan kontrol diri penggunanya. Mereka bisa kehilangan kendali. Nah, untuk jangka panjang, masalahnya jadi lebih serius: ketergantungan psikologis. Bedanya dengan narkotika, seperti dijelaskan Taruna, ketergantungan ini lebih bersifat psikis.
“Dampak jangka pendeknya, dia akan mengalami kendala dengan sekelilingnya, aspek sosialnya. Jangka panjangnya kan bisa menyebabkan ketergantungan, khususnya ketergantungan atau adiktif secara psikologis, karena dia merasakan, bukan zatnya ya, beda dengan narkotik kalau ini ketergantungan psikologis,” paparnya lebih lanjut.
Yang paling mengkhawatirkan, risiko ini bisa berlipat ganda. Apalagi kalau N2O dicampur dengan zat-zat lain dengan dosis tinggi. Kombinasi berbahaya itu bisa memicu hipoksia atau sesak napas parah.
“Bisa berdampak pada hal yang lebih parah lagi, apalagi kalau dipadukan dengan zat-zat yang di luar peruntukannya dengan dosis tinggi, menyebabkan sesak napasnya atau hipoksia, dan ujung-ujungnya kan bisa meninggal,” pungkas Taruna.
Jadi, meski namanya terdengar jenaka, konsekuensinya sama sekali tidak lucu. Dari gangguan sosial hingga ancaman nyawa, penyalahgunaan gas tertawa jelas bukan hal yang bisa dianggap remeh.
Artikel Terkait
Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia
Pertamina Siapkan Strategi Lima Pilar Hadapi Gejolak Energi Global 2026
Bank Dunia Soroti Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global