Gas tertawa, atau yang secara kimiawi disebut dinitrogen monoksida (N2O), belakangan ramai dibicarakan. Bukan karena fungsinya di dunia medis, melainkan karena maraknya penyalahgunaan. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pun angkat bicara, membeberkan sederet dampak berbahaya dari menghirup gas ini secara sembarangan.
Menurut Kepala BPOM, Taruna, dalam konteks medis sebenarnya N2O punya peran penting. Gas ini digunakan sebagai anestesi, membantu proses sedasi sebelum operasi.
“Efek dinitrogen oksida itu sebetulnya gas medis yang digunakan di ruang anastesi atau ruang bius sebetulnya untuk membantu proses sedasinya. Sebelum pasien itu dioperasi, dengan penggunaan gas ini pasien akan mengantuk, kemudian hilang rasa cemasnya. Itu fungsi utamanya,” jelas Taruna di Kantor BPOM Jakarta Pusat, Kamis lalu.
Namun begitu, dia menyayangkan fenomena yang terjadi sekarang. Gas yang seharusnya menenangkan pasien di ruang operasi justru banyak disalahgunakan untuk sekadar mencari sensasi.
Orang yang menghirupnya di luar prosedur medis biasanya mengejar efek dopamin perasaan rileks dan hilangnya stres sesaat. Dari sinilah julukan "gas ketawa" muncul. Tapi di balik sensasi sementara itu, ancamannya nyata.
Artikel Terkait
Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia
Pertamina Siapkan Strategi Lima Pilar Hadapi Gejolak Energi Global 2026
Bank Dunia Soroti Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global