Pasar saham AS bersiap untuk ujian berat pekan depan. Setelah libur musim dingin yang relatif tenang, minggu perdagangan penuh pertama di tahun 2026 ini dijanjikan akan penuh dinamika. Sorotan utamanya? Data ketenagakerjaan yang bakal dirilis pada 9 Januari. Laporan ini bukan sekadar angka biasa, melainkan bahan bakar utama yang akan menentukan langkah The Fed ke depan.
Ingat, di sepanjang 2025, kekhawatiran akan pelemahan pasar tenaga kerja mendorong The Fed memangkas suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut. Kebijakan itu sukses menopang pasar. Namun, apa yang terjadi di 2026 masih jadi teka-teki besar. Para pejabat bank sentral sendiri terbelah pandangannya dalam pertemuan Desember lalu, terutama karena inflasi masih bandel, bertengger di atas target 2 persen yang mereka idamkan.
Eric Kuby, Kepala Investasi di North Star Investment Management, Chicago, punya pandangan menarik.
"Fakta bahwa pasar tenaga kerja mulai melunak benar-benar memberi The Fed alasan kuat untuk mengubah pandangannya soal penurunan suku bunga," ujarnya.
Namun begitu, ada sisi lain yang bikin investor deg-degan. Laporan yang terlalu lemah justru bisa menjadi alarm bahaya. Bisa jadi itu pertanda resesi lebih dekat dari perkiraan kebanyakan orang saat ini. Menurut jajak pendapat Reuters, lapangan kerja Desember diperkirakan hanya bertambah 55.000. Angka ini tak jauh dari kenaikan 64.000 pada November, di mana tingkat pengangguran malah melonjak ke 4,6% level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
Artikel Terkait
MCOL Gelontorkan Rp265 Juta untuk Eksplorasi Batu Bara di Kuartal I-2026
Triniti Land Group Akan Akuisisi Mayoritas Saham Prime Land untuk Perkuat Bisnis Hospitality
Sido Muncul Bagikan Dividen Rp1,09 Triliun untuk Tahun Buku 2025
IHSG Menguat Tipis, PEGE dan HDFA Melonjak di Atas 34%