Di tengah kepanikan yang melanda Islamic Center of San Diego pada Minggu pagi, 18 Mei 2026, seorang petugas keamanan bernama Amin Abdullah justru berdiri tegak menghadapi dua remaja bersenjata api yang menyerang masjid tersebut. Amin menjadi satu dari tiga korban tewas dalam insiden penembakan di tempat ibadah terbesar di San Diego County, California, Amerika Serikat itu. Kepala Kepolisian San Diego Scott Wahl menegaskan bahwa tindakan Amin kemungkinan besar telah menyelamatkan banyak nyawa jemaah, termasuk anak-anak yang saat itu berada di kompleks masjid.
“Saya rasa adil jika saya mengatakan bahwa tindakannya heroik,” ujar Wahl dalam konferensi pers. “Tidak diragukan lagi, dia telah menyelamatkan banyak nyawa hari ini,” lanjutnya.
Kisah heroik Amin kemudian dibagikan oleh Kashif-ul-Huda, seorang pria yang pernah bekerja bersamanya sekitar dua dekade lalu di sebuah klinik gigi di San Diego. Kashif mengaku terakhir bertemu Amin pada Desember tahun lalu saat menghadiri salat jenazah ayahnya di Islamic Center of San Diego. Setelah lama tidak mengunjungi masjid tersebut, ia terkejut mendapati penjagaan keamanan yang sangat ketat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan di tempat ibadah yang damai itu. Peningkatan keamanan tersebut rupanya dipicu oleh sejumlah pesan kebencian yang ditujukan ke beberapa masjid di San Diego. Meski demikian, Kashif tidak pernah membayangkan akan ada ancaman besar yang benar-benar terjadi.
Saat berkunjung kembali, ia terkejut ketika seorang petugas keamanan di pintu masuk memanggil namanya. “KASHIF BHAI!!!” teriak Amin sambil tersenyum lebar, kenang Kashif, jauh sebelum peristiwa penembakan terjadi. Keduanya pernah bekerja bersama saat Kashif menjadi manajer di klinik gigi tempat Amin bekerja. Menurut Kashif, Amin bukanlah pegawai terbaik di klinik tersebut, tetapi kepribadiannya yang hangat membuat semua orang sulit untuk tidak menyukainya.
“Sulit memecat seseorang yang selalu menyambutmu dengan senyum besar,” tulis Kashif. Ia juga mengenang Amin sebagai sosok yang selalu tertarik pada profesi berseragam. “Dia selalu terpesona pada polisi dan orang-orang berseragam,” ujarnya.
Bertahun-tahun setelah meninggalkan pekerjaan di klinik gigi, Kashif merasa bahagia melihat Amin akhirnya mewujudkan impiannya menjadi petugas keamanan. Pada hari pertemuan terakhir mereka, keduanya sempat berbincang singkat dan tertawa bersama di tengah suasana duka pemakaman sang ayah. Kashif tidak menyangka itu menjadi pertemuan terakhir mereka setelah sekitar 20 tahun tidak bertemu. “Kemarin, dia gugur saat membela masjid,” tulis Kashif. “Amin, yang artinya ‘dapat dipercaya,’ hidup sesuai namanya dan meninggal saat melakukan pekerjaan yang ia cintai,” lanjutnya.
Amin lahir dari ibu keturunan Afrika-Amerika dan dibesarkan sebagai Muslim di Amerika Serikat. Menurut Kashif, Amin adalah sosok yang sangat Amerika sekaligus sangat Muslim. Ia meninggal dunia setelah ditembak oleh dua remaja Amerika dalam serangan yang kini diselidiki sebagai kejahatan bermotif kebencian.
Artikel Terkait
Menlu Sugiono Koordinasikan Penyelamatan WNI yang Ditahan Israel di Misi Kemanusiaan Gaza
Aston Villa vs Freiburg Perebutkan Gelar Perdana Liga Europa di Istanbul
Arsenal Pastikan Gelar Juara Liga Inggris Usai Manchester City Ditahan Imbang Bournemouth
Polisi Tangkap Dua Pemuda Bersajam Usai Curi Motor di Cikande, Aksi Terekam CCTV dan Viral