Di ruang rapat Komisi IV DPR, Senayan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono membeberkan sebuah realitas yang tengah menghantui sektor perikanan nasional. Dampak geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah, ternyata terasa sampai ke guncangan di kapal-kapal nelayan kita. Masalah utamanya? Bahan bakar minyak.
"Dinamika geopolitik global ini dampaknya nyata, termasuk buat kami di KKP," ujar Trenggono, Selasa (7/4/2026).
Ia menekankan bahwa hingga saat ini, para nelayan masih sepenuhnya bergantung pada BBM. Konflik yang berlarut-larut, jelas mempengaruhi stabilitas harga dan ketersediaannya. Ini bukan cuma soal ongkos melaut yang membengkak, tapi efeknya merambat jauh lebih dalam.
Menurut Trenggono, gangguan pada rantai pasok dan harga distribusi ikut terdampak. Alhasil, ada potensi serius terhadap penurunan volume ekspor. Daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global pun bisa terancam jika situasi ini berlanjut. Kementeriannya sendiri sudah mulai mengantisipasi berbagai skenario terburuk dari konflik AS-Israel-Iran tersebut.
Namun begitu, tantangan tak cuma datang dari konflik manusia. Ada juga ancaman dari alam yang sedang mengintai.
Trenggono lantas menyoroti fenomena 'Godzilla' El Nino yang diprediksi BRIN akan melanda periode April hingga Oktober 2026. Cuaca ekstrem ini bukan main-main. Ia bisa merusak ekosistem pesisir, memicu wabah penyakit pada budidaya, dan bahkan mempercepat degradasi ekosistem karbon biru. Kalau itu terjadi, emisi karbon bisa melonjak signifikan.
"Situasi ini punya dua sisi. Di satu sisi jadi tantangan berat yang harus diwaspadai, tapi di sisi lain juga membawa peluang yang harus dicermati," tambahnya.
Di tengah segala tantangan itu, ada kabar baik yang patut dicatat. Trenggono menyebut kinerja sektor kelautan dan perikanan nasional masih cukup tangguh. Produksi secara konsisten naik dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 3,8%.
"Pada tahun 2025, produksi kita mencapai 26,25 juta ton. Ini capaian tertinggi," jelasnya.
Angka itu terdiri dari 11,65 juta ton rumput laut, 7,85 juta ton hasil tangkapan, dan 6,75 juta ton dari budidaya. Sebuah pencapaian yang, di tengah gejolak global dan ancaman alam, tetap menunjukkan ketahanan sektor ini.
Artikel Terkait
Pakar: Sistem Keamanan Perbankan RI Paling Kuat, Nasabah Diminta Waspadai Kebocoran Data Pihak Ketiga
Wamendagri Ribka Haluk Turun Langsung ke Wamena Kawal Perdamaian Konflik Antar Suku
Tolak Pinjamkan Motor ke Suami, Seorang Istri di Depok Jadi Korban KDRT
Puasa Asyura 2026 Diperkirakan Jatuh pada 26 Juni, Sunah Penghapus Dosa Setahun