Hujan deras tak henti-hentinya mengguyur Gaza dan Khan Younis sejak Selasa (25/11) lalu. Akibatnya, genangan air meluas di mana-mana, bahkan merembes masuk ke dalam tenda-tenda pengungsian warga Palestina yang kondisinya sudah memprihatinkan.
Nourad Karirah, salah seorang pengungsi di Kota Gaza, mengaku hampir tidak bisa tidur semalaman. Ia dan keluarganya berjuang melawan air yang masuk dari segala penjuru.
"Sepanjang malam kami cuma bisa memegang kain pel," ujarnya, menggambarkan keputusasaan yang melanda. "Tenda-tenda yang kami tempati sudah usang dan penuh sobekan. Air masuk tanpa bisa dibendung."
Di sisi lain, kondisi serupa terjadi di Khan Younis. Banyak warga yang berhamburan mencari tempat berteduh, terutama di sekitar pasar kota. Mereka berusaha menyelamatkan diri sekaligus mengatasi dampak kerusakan infrastruktur yang kian parah.
Perubahan drastis ini dirasakan betul oleh Um Ahmed Aowdah, pengungsi lainnya. Ia mengenang masa ketika hujan di musim dingin adalah berkah, namun kini justru berubah jadi malapetaka.
"Dulu musim hujan kami nantikan sebagai berkah. Sekarang? Semuanya terasa seperti bencana," keluhnya.
Kerugian material akibat cuaca buruk ini ternyata tidak main-main. Dalam hitungan hari, kerusakan yang ditimbulkan mencapai angka USD 4,5 juta atau setara Rp 74 miliar. Rinciannya mencakup 22.000 tenda yang rusak, persediaan makanan dan obat-obatan yang terbuang, serta infrastruktur yang makin hancur. Sungguh situasi yang memperberat beban warga yang sudah terlunta-lunta.
Artikel Terkait
Malam Takbiran Idul Adha di Kayong Utara Meriah, Mahfud MD dan Dasad Latif Hadiri Pawai Mobil Hias
Wali Kota Makassar Soroti Ketidaklolosan Calon Paskibraka Nasional 2026, Minta Seleksi Dilakukan Secara Fair
Pemuda di Jombang Alami Luka Parah Usai Petasan Meledak Saat Malam Iduladha
Petani Muda di Luwu Utara Jadi Korban Pembusuran saat Cari Pelaku yang Serang Adiknya, Dua Orang Diamankan