Mahfud MD Soroti Lunturnya Nasionalisme, Sebut Kekecewaan Publik sebagai Pemicu

- Rabu, 25 Februari 2026 | 15:00 WIB
Mahfud MD Soroti Lunturnya Nasionalisme, Sebut Kekecewaan Publik sebagai Pemicu
Pernyataan Mahfud MD

Dalam sebuah diskusi yang cukup terbuka, Mahfud MD menyoroti sebuah fenomena yang menurutnya cukup mengkhawatirkan. Mantan Menko Polhukam itu melihat ada persoalan nasionalisme yang mulai luntur, terutama terlihat dari kasus beberapa alumnus LPDP yang justru bangga ketika anaknya tak lagi menjadi Warga Negara Indonesia. Menurut Mahfud, hal semacam ini bisa terjadi ketika warga merasa hak-haknya tak terpenuhi oleh negara.

"Nasionalisme itu luntur," tegasnya. "Bayangkan, ketika kita berharap pada Tanah Air untuk memberikan sesuatu yang wajar, tapi kenyataannya rakyat banyak yang tak mendapatkannya. Ya, lunturlah rasa cinta itu."

Pernyataan ini disampaikannya dalam podcast "Terus Terang Mahfud MD" yang tayang di YouTube, Selasa lalu.

Mahfud lalu menarik benang merah ke masa lalu. Ia mengingatkan, di era awal kepemimpinan Bung Karno, semangat nasionalisme di masyarakat begitu menggelora. Saat itu, rasa percaya pada pemimpin dan negara sangat tinggi. Masyarakat bahkan rela hidup sederhana karena yakin mereka tidak akan dikhianati oleh pemerintahnya sendiri.

Namun begitu, kondisi hari ini jauh berbeda. Ia merasa, banyak yang sudah putus asa melihat keadaan bangsa. Padahal, menurut pengamatannya, orang Indonesia sejatinya adalah orang-orang yang paling tinggi rasa nasionalismenya. "Coba lihat mereka yang pernah belajar di luar negeri," ujarnya.

"Yang selalu ingin pulang duluan itu pasti orang Indonesia. Rindunya pada Tanah Air itu luar biasa. Tugas dua minggu di luar, dua hari sudah pengin pulang. 'Tanah Airku tercinta, tidak terlupakan meski aku pergi jauh' itu ciri khas kita," tutur Mahfud dengan nada yang khas.

Di sisi lain, ia juga mengakui bahwa kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Mahfud menceritakan pengalaman mantan Presiden Joko Widodo yang sempat kesulitan berusaha di dalam negeri. Begitu sulitnya, sampai-sampai Jokowi harus mengurus izin usahanya di Dubai. Ironis, bukan?

Yang lebih parah, kesulitan itu masih berlanjut hingga sekarang. Meski sudah ada komputerisasi dan UU Cipta Kerja, urusan perizinan tetap saja berbelit. Alasan klasik seperti "komputernya error" masih sering terdengar. Hal inilah yang kerap diteriakkan oleh mereka yang tinggal di luar negeri.

Menyoroti pernyataan kontroversial salah seorang yang ia sebut "Bu Tyas", Mahfud menyampaikan kemarahan sekaligus pemahaman.

"Saya marah pada Anda karena dianggap menghina republik ini. Tapi saya juga paham, ucapan Anda lahir dari fakta-fakta yang sering mengecewakan di negeri sendiri," katanya.

"Cintailah negeri ini. Anda bisa bersekolah karena Indonesia merdeka, karena ada sumber daya yang bagus di sini."

Ia pun mengaku, dirinya sendiri merasakan hal yang sama. Kesempatan bersekolah dan menikmati banyak hal, semua itu ada karena Indonesia merdeka. Tanpa kemerdekaan itu, mustahil kita bisa mencapai kemajuan seperti sekarang.

"Tapi, kita tidak boleh diam," pungkas Mahfud. "Perbaikan harus terus dilakukan, sambil tetap mencintai Indonesia. Saya setuju dengan langkah blacklist pemerintah untuk kasus-kasus tertentu. Namun, pemerintah juga harus sadar, kerusakan itu sedang terjadi di mana-mana dan perlu perhatian serius."

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar