Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Inspektur Jenderal Agus Suryonugroho, menegaskan bahwa telah terjadi pergeseran paradigma besar-besaran dalam tubuh Polisi Lalu Lintas (Polantas). Fungsi Polantas saat ini, menurut dia, telah bertransformasi secara modern menjadi sebuah institusi pelayanan yang humanis, prediktif, dan berbasis teknologi.
Pendekatan lama yang menempatkan Polantas hanya sebagai penindak pelanggaran dinilai sudah tidak lagi relevan. Hal ini mengingat kompleksitas mobilitas masyarakat modern yang terus berkembang dan menuntut respons yang lebih adaptif.
"Dulu, fungsi lalu lintas sering identik dengan penegakan hukum semata. Kehadiran polisi lalu lintas lebih banyak dipersepsikan sebagai pengatur jalan, penindak pelanggaran, dan penjaga ketertiban," ujar Irjen Agus dalam keterangan resminya, Kamis (28/5/2026).
Saat ini, transformasi sistem lalu lintas berbasis digital terus diperkuat. Penguatan instrumen teknologi seperti ETLE Drone hingga perluasan ETLE Mobile Handheld tidak semata-mata untuk penegakan hukum. Lebih dari itu, langkah ini merupakan strategi untuk menghadirkan sistem pengawasan yang transparan, objektif, dan minim sekat birokrasi, sesuai dengan instruksi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Melalui pengelolaan lalu lintas berbasis data atau data-driven traffic management, Polantas masa kini didorong untuk mampu memprediksi dan mencegah risiko kecelakaan sejak awal. Polantas tidak lagi hanya hadir ketika kemacetan telah terjadi, tetapi bertindak secara proaktif.
Di sisi lain, transformasi ini tidak hanya menyentuh aspek teknologi. Irjen Agus juga mendorong reformasi kultural yang menyentuh langsung aspek humanis melalui program 'Polantas Menyapa dan Melayani'. Program ini dirancang untuk mengubah wajah Polantas menjadi sosok pelindung yang inklusif dan dekat di hati masyarakat.
Irjen Agus menambahkan, tantangan lalu lintas saat ini jauh lebih kompleks. Pertumbuhan volume kendaraan, perkembangan teknologi, hingga budaya digital menuntut perubahan pendekatan yang lebih presisi. Ia kemudian menjabarkan empat harapan besar dalam fungsi lalu lintas modern.
Pertama, Polantas bukan hanya menjaga kelancaran jalan, tetapi menjaga keselamatan jiwa manusia. Kedua, Polantas bukan sekadar menindak pelanggaran, melainkan membangun kesadaran dan budaya tertib berlalu lintas. Ketiga, Polantas bukan hanya hadir saat macet dan kecelakaan, tetapi mampu mencegah risiko sejak awal melalui teknologi dan data driven traffic management. Keempat, Polantas bukan menakutkan masyarakat, tetapi menjadi sahabat, pelindung, dan penolong masyarakat di jalan raya.
"Fungsi lalu lintas modern harus menjadi wajah negara yang paling dekat dengan rakyat. Karena setiap hari masyarakat bertemu polisi lalu lintas di jalan, maka sikap humanis, empati, dan pelayanan yang tulus akan lebih membekas daripada sekadar penindakan," ujar Irjen Agus.
Menurut dia, introspeksi terhadap fungsi lalu lintas bukanlah upaya untuk menoleh ke belakang, melainkan sebuah cermin untuk memperbaiki kualitas pelayanan di masa depan. Ia pun menutup pesannya dengan sebuah komitmen kuat bagi seluruh jajaran lalu lintas di Indonesia.
"Di ruang jalan, penegakan hukum diserahkan pada sistem digital secara objektif, sementara personel di lapangan berfokus pada edukasi dan pelayanan. Kami ingin menanamkan prinsip bahwa senyum Polantas adalah marka utama di jalan raya sebuah simbol keteraturan, keramahan, dan rasa aman," urai Kakorlantas.
Ia menegaskan bahwa seluruh jajaran lalu lintas di Indonesia berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan di masa depan. "Jika dahulu lalu lintas dibangun dengan ketegasan, maka hari ini lalu lintas harus disempurnakan dengan keselamatan, kemanusiaan, dan teknologi. Karena tujuan akhir dari fungsi lalu lintas bukan hanya jalan yang tertib, tetapi masyarakat yang selamat," pungkas Irjen Agus.
Artikel Terkait
Pemerintah Bangladesh Selamatkan Kerbau Albino ‘Donald Trump’ dari Penyembelihan Idul Adha
Polisi Ungkap Motif Selebgram Woodyrman Aniaya WNA Brunei hingga Tewas di Blok M
Rusia Hapus Utang Rp2,5 Miliar bagi Warga yang Mau Bertempur di Ukraina
National Gallery Singapore: Perpaduan Seni Modern dan Sejarah Kolonial di Tengah Pusat Kota