Di sisi lain, krisis energi global yang terjadi sekarang ini seharusnya jadi titik balik. Saat harga melambung atau pasokan seret, masyarakat otomatis dipaksa untuk memikirkan ulang kebiasaan konsumsi mereka yang selama ini dianggap biasa saja.
"Ini momentum untuk berubah. Kita tidak bisa terus mengandalkan sumber energi yang terbatas dan merusak lingkungan,” ucap Amanda.
Dia juga menggarisbawahi satu hal penting. Dampak konsumsi BBM berlebih ternyata tak cuma soal lingkungan. Kualitas hidup manusia pun taruhannya.
Polusi udara makin pekat, risiko penyakit pernapasan bertambah, dan tekanan terhadap ekosistem kian berat. Dalam jangka panjang, semua ini bakal memengaruhi hal-hal mendasar: ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, bahkan stabilitas ekonomi.
"Yang sering kita lupakan, generasi mendatang akan menanggung beban terbesar dari keputusan kita hari ini. Jadi mari kita mulai bersikap bijak dalam menggunakan BBM hari ini,” pungkasnya.
(NIA DEVIYANA)
Artikel Terkait
Industri Plastik Waspadai Rantai Pasok Membengkak Imbas Diversifikasi Bahan Baku
Mentan Siapkan Lima Strategi Mitigasi Hadapi Ancaman El Nino 2026
PMI Mesir Anjlok ke Level Terendah, Sektor Swasta Non-Migas Tertekan Akibat Perang
Polda Metro Jaya Selidiki Insiden Kejar-kejaran dan Senggolan Mobil di Tol Pelabuhan