JAKARTA Sebuah varian baru Covid-19, yang dijuluki "Cicada", kini tengah menjadi sorotan. Varian dengan kode BA.3.2 ini dilaporkan sedang meluas penyebarannya di Amerika Serikat. Tak hanya di sana, jejaknya mulai terdeteksi pula di berbagai belahan dunia.
Menurut laporan CDC yang dirilis Senin (30/3/2026), hingga pertengahan Februari lalu, varian ini sudah ditemukan di sedikitnya 25 negara bagian AS. Padahal, kemunculan pertamanya tercatat setahun yang lalu, berkembang dengan perlahan dan tanpa banyak gembar-gembor.
Lantas, seberapa berbahayakah Cicada ini bagi kita?
Prof Andrew Pekosz, seorang ahli virologi ternama dari Johns Hopkins, memberikan penjelasan. Menurutnya, varian BA.3.2 ini membawa perubahan genetik pada protein spike-nya. Perubahan itulah yang diduga membuat virus jadi lebih mudah menular dari orang ke orang.
"Secara teori memang terlihat menakutkan," aku Pekosz, "tetapi di sebagian besar tempat, hal itu belum memberikan dampak besar dalam hal penyebaran penyakit."
Di sisi lain, kekhawatiran lain muncul. Kemunculan Cicada berpotensi mengikis perlindungan yang diberikan oleh vaksinasi sebelumnya. Artinya, risiko penularan bisa meningkat, terutama pada kelompok yang belum divaksinasi sama sekali. Karena alasan inilah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini memantau ketat pergerakannya, mengklasifikasikannya sebagai 'Varian yang Sedang Dipantau'.
Artikel Terkait
Indonesia dan Jepang Jajaki Kemitraan Sister Park untuk Konservasi
Indonesia dan Jepang Perkuat Kemitraan Pariwisata dengan MoC Pertama
Nadiem Soroti Penggunaan SPT Pajak Pribadi sebagai Barang Bukti di Sidang Korupsi Chromebook
Komisi Yudisial Buka Pendaftaran 14 Calon Hakim Agung dan Hakim Ad Hoc