Di Yordania, seorang remaja Indonesia berusia 16 tahun bernama KL menghadapi proses hukum terkait dugaan keterlibatan dengan ISIS. Kisah hidupnya, jauh sebelum penangkapan itu, ternyata penuh liku. Sejak usianya baru menginjak empat tahun, orang tuanya ayah Prancis dan ibu Indonesia memutuskan untuk bercerai. Akibatnya, KL tumbuh besar hanya dalam asuhan ibunya.
Mereka pun tinggal di Yordania. Menurut sejumlah saksi dari pihak keluarga, sejak masa kanak-kanak, KL sudah menunjukkan tanda-tanda yang butuh penanganan khusus secara psikologis. Kondisinya tidak bisa dianggap remeh.
Diagnosa kemudian menyebutkan ia mengidap ADHD dan juga depresi. Nah, masalah itu malah kian parah ketika ia beranjak remaja. Tekanan demi tekanan seolah menumpuk tanpa henti.
Ibunya, yang kini menetap di Yordania, menjadi sandaran satu-satunya. Setelah KL ditahan pada Mei 2025 lalu, sang ibu memutuskan berhenti bekerja. Fokusnya sekarang cuma satu: memantau dan mendampingi anaknya yang masih terombang-ambing dalam proses hukum negeri orang.
Keluarga merasa, latar belakang kehidupan KL punya pengaruh besar pada keadaan psikisnya sekarang.
“Sejak kecil dia sudah butuh perhatian khusus. Orang tuanya berpisah waktu dia masih sangat kecil, dan sejak itu hanya diasuh ibunya,” ujar pihak keluarga.
Mereka menegaskan, persoalan yang dihadapi KL bukan cuma soal hukum. Beban psikologis yang sudah dipikulnya bertahun-tahun itu kini jadi sorotan lain. Sebuah beban lama yang ikut menentukan jalan hidupnya.
Hingga detik ini, KL masih harus menjalani proses hukum di Yordania. Menunggu, dalam ketidakpastian yang mencekam.
Artikel Terkait
Rehan/Gloria Tembus Perempat Final Australian Open 2026 Usai Kalahkan Wakil Chinese Taipei
PTDI Sulap Dua Boeing 737-200 Terbengkalai Selama 20 Tahun Jadi Sarana Edukasi Kedirgantaraan
Timnas Indonesia U-19 Tersingkir di Semifinal Piala ASEAN Usai Takluk Dramatis dari Australia
Dua Ganda Putri Indonesia Melaju ke Perempat Final Australian Open 2026