Indonesia dan Jepang Perkuat Kemitraan Pariwisata dengan MoC Pertama

- Senin, 30 Maret 2026 | 18:35 WIB
Indonesia dan Jepang Perkuat Kemitraan Pariwisata dengan MoC Pertama

Di tengah hiruk-pikuk Tokyo, tepatnya di kantor Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang di Kasumigaseki, sebuah kesepakatan penting akhirnya ditandatangani. Senin lalu, 30 Maret 2026, Indonesia dan Jepang resmi memperkuat kemitraan bilateral mereka di sektor pariwisata lewat sebuah Memorandum of Cooperation (MoC). Ini bukan kerja sama biasa. Untuk pertama kalinya, kedua negara memiliki dasar formal yang jelas untuk berkolaborasi dalam bidang ini, hasil dari proses panjang yang makan waktu lebih dari dua tahun.

Menteri Pariwisata kita, Widiyanti Putri Wardhana, dan Menteri MLIT Jepang, Yasushi Kaneko, yang menandatangani dokumen tersebut. Acara itu disaksikan sejumlah pejabat kunci dari kedua belah pihak, termasuk Deputi Martini M. Paham dan Komisioner JTA Shigeki Murata. Suasana di ruangan itu terasa penuh harapan.

Dalam sambutannya, Menparekraf Widiyanti menegaskan posisi Jepang sebagai mitra strategis utama. Angkanya cukup berbicara. Sepanjang 2025, tercatat lebih dari 380.000 wisatawan Jepang yang berkunjung ke Indonesia. Jumlah itu naik sekitar 12% dari tahun sebelumnya, dengan rata-rata mereka menghabiskan hampir delapan hari di tanah air.

“Tapi, kita tentu ingin lebih dari itu,” kira-kira begitu nada yang terasa. Ia lantas menyoroti soal konektivitas udara yang disebutnya sebagai kunci. Saat ini, rute Tokyo-Jakarta dan Tokyo-Bali memang jadi andalan. Namun, ke depan terbuka peluang untuk mengembangkan penerbangan langsung ke destinasi lain seperti Yogyakarta, atau dari kota-kota besar lain di Jepang selain Tokyo.

Di sisi lain, ada juga program lain yang diangkat. Menteri Widiyati menyampaikan program Presiden Prabowo Subianto tentang pengiriman tenaga kerja terlatih ke luar negeri, termasuk di bidang pariwisata. Program ini rencananya akan diperkuat melalui kerangka MoC yang baru saja disepakati, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia.

Lantas, apa urgensi kerja sama ini sekarang? Rupanya, langkah ini punya dimensi strategis yang lebih luas. Selain untuk memperkuat kolaborasi dengan negara-negara Asia Timur, kerja sama dengan Jepang ini juga dilihat sebagai salah satu bentuk mitigasi. Dunia sedang tidak stabil, dinamika geopolitik global termasuk ketidakpastian di Timur Tengah bisa saja memengaruhi pola perjalanan wisatawan internasional. Dengan diversifikasi pasar dan kerja sama yang solid, Indonesia berharap bisa menjaga pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara agar tetap berkelanjutan.

Menariknya, penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang, yang tentu saja memberi nuansa dan bobot politik tersendiri.

Lalu, apa saja yang akan dikerjakan? Ruang lingkup MoC ini cukup komprehensif. Mulai dari promosi bersama di pameran internasional, pengembangan produk wisata seperti wellness, kuliner, bahari, hingga ekowisata. Juga ada kerja sama pengelolaan destinasi berkelanjutan, desa wisata, hingga pelibatan sektor swasta seperti maskapai penerbangan dan agen perjalanan.

Tak ketinggalan, pengembangan SDM lewat pelatihan, kerja sama di bidang MICE, penguatan konektivitas udara, peluang investasi, dan yang tak kalah penting: peningkatan perlindungan dan keamanan bagi para wisatawan.

Nantinya, semua rencana ambisius ini akan diwujudkan oleh sebuah Joint Working Group (JWG). Kelompok kerja gabungan inilah yang bertugas menyusun rencana aksi konkret dan memantau pelaksanaannya dari waktu ke waktu.

Acara penandatanganan MoC sendiri berlangsung khidmat. Diawali dengan pertemuan bilateral tertutup antara kedua menteri, lalu dilanjutkan dengan upacara penandatanganan, sesi foto, dan ditutup dengan pertukaran cenderamata sebagai simbol persahabatan.

Pada akhirnya, melalui MoC ini, Indonesia dan Jepang bukan cuma sekadar menambah satu dokumen kerja sama. Mereka sedang menegaskan komitmen untuk membangun kolaborasi yang inovatif, saling menguntungkan, dan yang paling penting berkelanjutan. Tujuannya jelas: mendongkrak angka kunjungan sekaligus mempererat hubungan antar masyarakat kedua negara. Langkah awal sudah diambil. Sekarang, tinggal eksekusinya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar