Kenangan untuk Sang Pemikir Pertahanan
Suasana hening menyelimuti Kantor Kementerian Pertahanan, Minggu (29/3) pagi. Di sana, Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Ia datang untuk melayat kepergian Juwono Sudarsono, mantan menteri pertahanan yang pernah bekerja bersamanya.
SBY mengenang almarhum sebagai putra terbaik bangsa. Pertemanan mereka, katanya, sudah terjalin sejak lama.
“Saya mengenal almarhum secara pribadi, ini ceritanya sejak saya masih menjadi perwira muda, saya letnan kolonel dari satuan tempur, tapi pernah menjadi dosen Seskoad. Saya mulai berkomunikasi dengan beliau,”
Begitu tutur SBY di lokasi. Ia menggambarkan Juwono bukan sekadar birokrat, melainkan seorang intelektual dengan gagasan-gagasan besar. Pemikirannya, terutama di ranah hubungan internasional dan pertahanan, disebutnya sangat cemerlang.
“Beliau salah satu pemikir, dosen, bahkan Dekan FISIP UI waktu itu, tapi ideas-nya, pemikirannya cemerlang untuk Indonesia, untuk dunia, hubungan internasional dan pertahanan,”
Menariknya, kedekatan pribadi itu kemudian melahirkan kesamaan visi. Menurut SBY, persamaan pandangan itulah yang menjadi fondasi kerja sama mereka. Terutama saat mendorong reformasi tubuh militer pasca 1998, sebuah periode yang penuh gejolak.
“Setelah bersahabat cukup dekat, saya sering berdiskusi antara lain bagaimana pandangan militer dan pandangan sipil disatukan. Dan ketika saya mengemban tugas waktu itu, 1998 di era Reformasi, agar TNI kembali ke jati dirinya, tidak berpolitik praktis, tapi sebagai kekuatan pertahanan yang diandalkan, Mas Juwono memiliki pandangan yang sama,”
Kerja sama itu pun berlanjut. Saat SBY memimpin negeri ini, ia mempercayakan portofolio pertahanan kepada Juwono. Masa itu diisi dengan berbagai langkah strategis. Modernisasi alutsista, misalnya, digenjot agar kemampuan militer Indonesia semakin diperhitungkan di kawasan ASEAN.
Namun begitu, kontribusi Juwono tak berhenti di situ. Ada satu hal yang mungkin kurang dikenal publik: andil besarnya dalam mendirikan Universitas Pertahanan Indonesia.
“Salah satu yang kami pikirkan dulu, dengan Pak Juwono dan kemudian dengan Pak Purnomo Yusgiantoro sebagai Menteri Pertahanan, bagaimana Indonesia memiliki Universitas Pertahanan. Jangan sampai kita belajarnya malah ke negara lain, padahal kita kaya dengan pengalaman perang,”
Bagi SBY, warisan Juwono melampaui sekadar urusan pertahanan. Ada aspek diplomasi yang juga ditekankan almarhum. Di tengah dinamika global yang kerap tak menentu, Indonesia membutuhkan diplomat-diplomat yang tangguh dan cerdas. Itu pesan yang selalu dipegangnya.
Kini, sang pemikir telah pergi. Tetapi gagasan-gagasannya, seperti yang diungkapkan SBY, akan terus dikenang.
Artikel Terkait
Sapi Kurban Mengamuk, Tercebur ke Selokan saat Hendak Diberi Makan di Bogor
Dusun Krajan Banjarnegara Kurban 52 Sapi dan 339 Kambing, Warga Gotong Royong Jadi RPH Dadakan
Sahroni Kurbankan 38 Sapi, Termasuk Satu Ekor Berat 1,2 Ton untuk Iduladha 2026
Selebgram Woodyrman Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan yang Tewaskan WNA Brunei