Harga Emas Melonjak di Tengah Harapan Damai AS-Iran, Minyak Ambruk 4,9 Persen

- Selasa, 26 Mei 2026 | 09:45 WIB
Harga Emas Melonjak di Tengah Harapan Damai AS-Iran, Minyak Ambruk 4,9 Persen

Harapan baru akan tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga emas dunia mengalami kenaikan pada perdagangan Senin waktu setempat, meskipun laju penguatan tersebut tertahan oleh kekhawatiran pasar terhadap kebijakan suku bunga yang masih akan tetap tinggi dalam jangka panjang.

Berdasarkan data yang dihimpun, harga emas spot yang menjadi acuan pasar emas global melonjak 1,4 persen ke level 4.573,31 dolar AS per troy ons. Satu troy ons setara dengan 31,10 gram. Sementara itu, harga emas berjangka, yang menjadi patokan kontrak pembelian atau penjualan emas di masa depan, naik 1,1 persen menjadi 4.606,97 dolar AS per troy ons. Perak spot juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 3,3 persen ke posisi 78,03 dolar AS.

Di sisi lain, harga minyak mentah justru mengalami tekanan cukup dalam. Minyak mentah Brent berjangka, yang menjadi patokan harga minyak global, ambruk 4,9 persen menjadi 95,35 dolar AS per barel. Angka ini merosot jauh dari puncak terbaru yang sempat menembus level 100 dolar AS per barel. Kendati demikian, harga Brent saat ini masih sekitar 20 dolar AS lebih mahal dibandingkan periode sebelum konflik berkepanjangan antara kedua negara tersebut pecah.

Katalis utama pergerakan harga ini berasal dari laporan bahwa Iran dan Amerika Serikat telah mencapai kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Namun, nota kesepahaman potensial tersebut belum mencakup rincian spesifik mengenai pengelolaan Selat Hormuz, demikian pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Meskipun demikian, kesepakatan antara Teheran dan Washington belum dapat dipastikan akan segera terwujud, kendati kedua pihak telah mencapai kesimpulan mengenai berbagai topik perundingan. Pernyataan ini muncul setelah laporan media pada akhir pekan lalu yang mengutip seorang pejabat senior Gedung Putih menyebutkan bahwa kerangka kerja kesepakatan telah tercapai.

Laporan tersebut menyatakan bahwa kesepakatan akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz jalur air vital di lepas pantai selatan Iran yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Selat tersebut hampir sepenuhnya ditutup bagi lalu lintas kapal tanker selama berminggu-minggu, yang mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran lonjakan inflasi di berbagai negara. Sebagai imbalan, Amerika Serikat dilaporkan akan mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa Teheran tidak akan memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Pernyataan ini berpotensi membalikkan ancaman besar Iran sebelumnya yang akan memperkuat cengkeraman finansial atas jalur tersebut. Namun, ia mencatat bahwa layanan apa pun yang akan diberikan tetap memerlukan harga, tetapi tidak boleh disebut sebagai biaya tol.

Melalui media sosial, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia telah memberi tahu perwakilannya untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan. Ia menambahkan bahwa blokade Amerika terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku hingga kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani.

Di tengah dinamika geopolitik tersebut, spekulasi pasar semakin meningkat bahwa lonjakan inflasi yang dipicu sektor energi akan mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Tren ini dinilai tidak menguntungkan bagi aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas. Pada saat yang sama, dolar Amerika Serikat dipandang sebagai tempat berlindung yang relatif aman bagi investasi, sebagian berkat keyakinan bahwa Amerika sebagai pengekspor energi utama mampu secara ekonomi menahan guncangan harga minyak akibat perang.

Penguatan dolar dapat mengurangi daya tarik emas dengan membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi pembeli di luar negeri. Indeks dolar, yang menjadi indikator nilai mata uang Amerika terhadap sekeranjang mata uang lainnya, tercatat sedikit melemah pada perdagangan Senin. Para analis juga mengindikasikan bahwa pemulihan aliran minyak mungkin membutuhkan waktu lama, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar