Nah, soal asal-usulnya, BA.3.2 pertama kali berhasil diidentifikasi di Afrika Selatan pada November 2024. Varian ini merupakan keturunan dari BA.3, salah satu subvarian Omicron yang muncul di 2022 dan sempat beredar bersama BA.1 dan BA.2. Perkembangannya yang tenang di awal membuatnya kurang mendapat perhatian. Namun, gelombang penyebaran yang masif di AS belakangan ini akhirnya membuatnya viral dan patut diwaspadai.
Apakah Varian Ini Menyebabkan Sakit yang Lebih Parah?
Ini mungkin kabar baik. Secara umum, tidak.
Dr. Adolfo García-Sastre, direktur institut kesehatan global di Mt. Sinai, memberikan penegasan. Dalam keterangannya kepada Today, ia menyatakan bahwa sejauh ini belum ada bukti yang menunjukkan BA.3.2 menyebabkan penyakit lebih parah atau meningkatkan angka rawat inap di negara-negara dengan penyebaran luas.
"Tentu saja, ini masih bisa menimbulkan masalah," tambah García-Sastre mencairkan optimisme, "tetapi ini bukan jenis yang lebih bermasalah daripada jenis sebelumnya."
Jadi, meski kecepatan penyebarannya perlu diwaspadai, tingkat keparahannya sejauh ini belum menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan. Situasinya tetap diawasi, tapi tidak perlu sampai menimbulkan kepanikan.
Artikel Terkait
Indonesia dan Jepang Jajaki Kemitraan Sister Park untuk Konservasi
Indonesia dan Jepang Perkuat Kemitraan Pariwisata dengan MoC Pertama
Nadiem Soroti Penggunaan SPT Pajak Pribadi sebagai Barang Bukti di Sidang Korupsi Chromebook
Komisi Yudisial Buka Pendaftaran 14 Calon Hakim Agung dan Hakim Ad Hoc