Seks Jelang Persalinan: Benarkah Bisa Mempercepat Kontraksi?

- Senin, 19 Januari 2026 | 19:24 WIB
Seks Jelang Persalinan: Benarkah Bisa Mempercepat Kontraksi?

Bicara soal seks saat hamil, apalagi ketika kontraksi sudah mulai terasa atau persalinan makin dekat, pasti bikin banyak calon orang tua bertanya-tanya. Gimana, sih, aman nggak?

Nah, menurut laporan dari The Bump, berhubungan intim bisa aja memicu kontraksi ringan pasca-orgasme. Ini karena tubuh melepaskan oksitosin. Belum lagi, semen mengandung prostaglandin yang secara teori bisa bantu melunakkan serviks bagian yang perlahan terbuka saat mau melahirkan. Tapi, jangan buru-buru berasumsi. Faktanya, bukti ilmiah yang ada nggak menunjukkan kalau seks bisa secara konsisten memicu kontraksi persalinan yang kuat atau aktif pada kehamilan sehat. Jadi, jangan dianggap sebagai cara ajaib untuk memulai proses melahirkan.

Orgasme dan Kontraksi: Apa Hubungannya?

Moms, saat orgasme, tubuh memang melepaskan hormon yang bikin rahim berkontraksi. Rasanya mirip kontraksi ringan, kadang seperti kontraksi palsu atau Braxton Hicks. Umumnya sih nggak berbahaya, asalkan kehamilannya normal dan tanpa komplikasi.

Di sisi lain, beberapa penelitian sempat mengaitkan aktivitas seks di minggu-minggu terakhir dengan permulaan persalinan. Tapi hasilnya nggak seragam. Alias, belum bisa dijadikan patokan pasti. Jadi, ya, mungkin saja terjadi pada sebagian orang, tapi nggak pada yang lain.

Lantas, bedanya apa sama kontraksi beneran?

Kontraksi akibat seks biasanya lebih ringan dan nggak teratur. Cuma sebentar lalu reda. Sementara kontraksi persalinan yang sesungguhnya punya pola jelas: makin lama, makin kuat, dan makin sering. Ritmenya konsisten dan intensitasnya terus meningkat.

Pendapat dokter juga perlu jadi pertimbangan. Seperti diungkapkan dr. Kendara Seguara, seorang obgyn dari California, AS.

“Berhubungan seks tidak akan memicu persalinan alami jika tubuh Anda belum siap,” katanya.

Menurutnya, persalinan baru terjadi ketika hormon dan kondisi fisiologis tubuh betul-betul matang untuk melahirkan. Jadi, kalau bayi belum ‘siap keluar’, seks saja nggak akan memaksanya.

Kapan Sebaiknya Menghindari Seks?

Meski umumnya aman-aman saja untuk kehamilan sehat, ada beberapa kondisi dimana berhubungan intim justru nggak dianjurkan. Misalnya, kalau ketuban sudah pecah atau ada cairan yang merembes. Kondisi ini meningkatkan risiko infeksi kalau ada penetrasi atau bakteri yang masuk lewat vagina. Biasanya, dokter akan melarang seks sampai persalinan selesai.

Selain itu, hindari juga jika ada tanda-tanda infeksi atau perdarahan. Atau kalau Anda punya kondisi risiko tinggi seperti plasenta previa atau serviks yang lemah. Keadaan-keadaan itu butuh kehati-hatian ekstra.

Intinya, setiap kehamilan itu unik. Pengalaman satu ibu bisa sangat berbeda dengan ibu lainnya. Jadi, meski seks saat kontraksi ringan mungkin terjadi, yang paling bijak adalah selalu konsultasikan dulu dengan dokter kandungan atau bidan. Ceritakan kondisi spesifik Anda, baru putuskan langkah selanjutnya. Lebih baik hati-hati, kan?

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar