Saham AS Beragam di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Upaya Diplomasi Iran

- Kamis, 05 Maret 2026 | 00:25 WIB
Saham AS Beragam di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Upaya Diplomasi Iran

Pasar saham AS dibuka dengan suasana campur aduk Rabu lalu. Indeks S&P 500 memang merangkak naik, tapi pergerakannya tipis sekali. Di balik layar, gejolak masih terasa. Rupanya, sentimen investor sedang diuji oleh dua hal: kabar dari Timur Tengah dan janji dari Gedung Putih.

Menurut laporan The New York Times, ada gelagat menarik dari Iran. Sehari setelah serangan terjadi, agen intelijen mereka dikabarkan menghubungi CIA secara tidak langsung. Tujuannya? Membuka pembicaraan untuk mengakhiri konflik. Kabar ini tentu saja disambut, tapi jangan terlalu cepat berharap. Pemerintahan Trump dan mungkin juga Iran sendiri tampaknya belum benar-benar siap untuk meredakan ketegangan dalam waktu dekat.

“Ini bisa jadi sinyal positif,” kata Art Hogan, Kepala Ahli Strategi Pasar di B Riley Wealth. Tapi dia mengingatkan, “Kita tidak boleh gegabah. Pemerintah sudah menyatakan punya tujuan yang belum tercapai.”

Di sisi lain, Presiden Donald Trump berusaha menenangkan pasar dengan jaminan akan menstabilkan harga minyak. Pengumuman tentang pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS di Selat Hormuz, plus asuransi risiko politik, sedikit banyak memberi angin segar.

Namun begitu, realitas di lapangan masih suram. Beberapa negara di Timur Tengah telah menghentikan sementara produksi minyak dan gas. AS sendiri disebut-sebut sedang memperluas kampanye militernya ke pedalaman Iran. Dampaknya langsung terlihat di papan perdagangan.

Sektor energi S&P 500 anjlok 1,8 persen, memimpin penurunan sektor lain. Saham perusahaan minyak seperti ConocoPhillips dan Cheniere Energy masing-masing terpangkas 2,8 persen dan 1,5 persen. Nasib saham pariwisata yang sensitif terhadap harga minyak pun beragam. American Airlines naik 1,2 persen, Norwegian Cruise bertahan di tempat, sementara Carnival dan Delta justru merosot.

Pada pukul 09:56 waktu setempat, pergerakan indeks utama terlihat terfragmentasi. Dow Jones sedikit melemah, turun 0,07 persen ke level 48.467,74. S&P 500 naik tipis 0,12 persen, sedangkan Nasdaq Composite melesat lebih kencang dengan kenaikan 0,58 persen menjadi 22.646,75.

Di tengah semua ini, para investor tampaknya sedang menata ulang ekspektasi. Mereka memundurkan prediksi penurunan suku bunga dari Juli ke September. Kekhawatiran akan biaya energi yang melambung dan tarif AS yang memicu inflasi membuat mereka lebih berhati-hati.

Secara teknis, S&P 500 masih mencatatkan enam rekor tertinggi baru dalam setahun terakhir. Nasdaq bahkan lebih spektakuler dengan 34 rekor tertinggi. Tapi di saat yang sama, kedua indeks itu juga mencatatkan puluhan rekor terendah baru. Ini menggambarkan betapa tidak pastinya pasar saat ini naik turun dalam satu tarikan napas.

Semuanya bergantung pada langkah politik dan militer selanjutnya. Pasar menunggu, sambil berharap konflik tidak semakin meluas.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar