Presiden Prabowo Subianto ternyata tak hadir dalam acara puncak peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama yang ke-100 tahun. Acara yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, pada Sabtu (31/1/2026) itu dihadiri ribuan orang, namun kursi untuk tamu utama nomor satu itu kosong.
Soal ketidakhadiran itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memberikan penjelasan. Menurutnya, Prabowo sebenarnya sudah mempersiapkan kehadirannya sejak sehari sebelumnya.
"Sejak kemarin sudah dilakukan, hal-hal teknis yang memang diperlukan, untuk kehadiran beliau. Tapi memang pada saat terakhir, beliau mungkin berhalangan karena ada tugas lain ya. Kami mendengar juga ada beberapa tugas negara terkait dengan tamu-tamu negara yang hadir pada hari ini,"
kata Gus Yahya, mencoba memberi konteks.
Meski Presiden tak hadir, Gus Yahya menyebut kehadiran Ketua MPR RI Ahmad Muzani tetap patut disyukuri. "Kami bersyukur Pak Muzani bisa datang," ujarnya. Rupanya, bukan cuma Prabowo yang absen. Rais Aam PBNU, Kiai Haji Miftachul Akhyar, juga berhalangan hadir karena alasan kesehatan.
"Mengenai Rais Aam, Kiai Haji Miftachul Akhyar, kami tadi malam sudah mendapatkan kabar dari beliau bahwa sedianya beliau akan berangkat, tapi beliau mengalami kendala kesehatan. Sehingga beliau berhalangan untuk bisa ikut hadir,"
tuturnya lagi.
Khutbah yang seharusnya dibacakan Rais Aam pun akhirnya diwakili oleh Rais Syuriyah PBNU yang juga menjabat Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Daftar ketidakhadiran tampaknya agak panjang. Beberapa nama menteri lain juga tidak terlihat, termasuk Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul.
"Termasuk Pak Saifullah Yusuf mungkin ada kesibukan lain. Ya tentu ada tugas lain ya," ucap Gus Yahya singkat, tanpa berpanjang lebar.
Di sisi lain, Gus Yahya menegaskan bahwa roda organisasi NU akan terus berjalan. Baginya, momentum harlah ini bukan akhir, melainkan bagian dari proses panjang.
"Yang jelas sesudah ini semua proses-proses organisasi akan terus kita jalankan sebagaimana mestinya untuk sampai kepada penuntasan amanah dan mandat dari Muktamar Lampung tahun 2021 yang lalu,"
pungkasnya, menutup penjelasan.
Suasana di Istora tetap khidmat. Kehadiran ribuan kiai, santri, dan undangan lain seolah mengisi celah dari kursi-kursi yang kosong tadi. Acara pun berlanjut seperti rencana.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi