Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

- Kamis, 04 Juni 2026 | 10:20 WIB
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Kamis pagi. Mata uang Garuda secara resmi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, sebuah batas yang selama ini menjadi kekhawatiran utama para pelaku pasar.

Pergerakan depresiasi berlangsung sangat agresif sejak awal sesi. Pada pukul 09.04 WIB, rupiah sudah tergerus hingga menyentuh Rp17.995 per dolar AS, hanya dalam waktu kurang dari 30 menit setelah bel pembukaan. Aksi jual yang masif kemudian mendorong rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS tepat pukul 09.16 WIB, menorehkan rekor performa terlemah dalam sejarah. Pelemahan berlanjut hingga pukul 09.46 WIB, dengan koreksi mencapai 0,35 persen ke posisi Rp18.029 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat tipis ke level 99,44 pada pukul 09.01 WIB. Di pasar komoditas, harga minyak mentah turun 1,07 persen menjadi USD96,76 per barel. Namun, posisi kedua indikator eksternal tersebut dinilai masih terlalu tinggi dan berpotensi memperlebar defisit neraca transaksi berjalan serta defisit anggaran pendapatan dan belanja negara.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa kejatuhan rupiah kali ini didorong oleh perpaduan sentimen eksternal dan kondisi makroekonomi dalam negeri. Untuk sisa perdagangan hari ini, ia memproyeksikan rupiah akan bergerak dengan fluktuasi tinggi pada rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS.

Dari lanskap global, perhatian pelaku pasar tertuju pada memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Konflik militer semakin meruncing setelah tentara Israel memperpanjang operasi tempurnya di Lebanon selatan. Iran merespons langkah tersebut dengan meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain.

"Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran," ujar Ibrahim.

Di sisi lain, daya tarik rupiah di mata investor ikut merosot setelah rilis data inflasi bulanan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa angka inflasi Indonesia pada Mei 2026 melonjak ke level 0,28 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan realisasi April 2026 yang sebesar 0,13 persen.

Meskipun laju inflasi mengalami kenaikan, struktur eksternal Indonesia masih ditopang oleh kinerja ekspor-impor yang positif. Neraca perdagangan nasional pada April 2026 tetap mencatatkan surplus senilai USD89,1 juta. Dengan torehan tersebut, Indonesia berhasil memperpanjang rekor surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar