Malam itu, Istana Merdeka tak hanya ramai oleh hiruk-pikuk protokoler. Suasana hangat dan khidmat justru datang dari acara buka puasa bersama yang dihadiri puluhan tokoh ulama dan pimpinan organisasi Islam. Presiden Prabowo Subianto sendiri yang mengundang mereka untuk bersilaturahmi dalam pertemuan tertutup yang berlangsung cukup lama, nyaris tiga jam penuh.
“Bapak Presiden tadi dari jam 20.00, sekarang jam berapa ini, 23.00, 3 jam,” ujar Menko Pangan Zulkifli Hasan usai acara, Kamis malam lalu.
Menurut Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, undangan itu direspons positif. Tak kurang dari 158 pimpinan yang mewakili 86 ormas Islam memenuhi Istana. Mereka datang dari berbagai latar, termasuk tokoh pesantren.
“Dengan 158 pimpinan ormas Islam se-Indonesia, ada 86 pimpinan ormas. Kemudian ditambah dengan tokoh-tokoh Islam, sama tokoh-tokoh pimpinan pondok pesantren,” jelas Nusron.
Nusron juga mengungkap bahwa undangan ternyata juga disampaikan kepada Habib Rizieq Shihab. Namun sang habib berhalangan hadir.
“Termasuk kita undang sebetulnya Habib Rizieq Shihab. Tapi beliau tidak hadir, mewakilkan kepada dua menantunya, yaitu Habib Hanif Al-Attas sama Habib Muhammad. Menantunya beliau,” katanya.
Lalu, apa yang dibicarakan selama tiga jam? Rupanya diskusi berjalan cukup mendalam, menyentuh isu-isu global yang berdampak langsung ke dalam negeri. Prabowo secara khusus memaparkan analisisnya tentang dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia.
“Dari diskusi tadi, intinya Bapak Presiden menjelaskan dua hal. Pertama, masalah geopolitik dan geoekonomi secara global. Terutama yang menyangkut tentang krisis di Timur Tengah, baik di Gaza maupun Palestina maupun kondisi kekinian yang ada menyangkut bagaimana pascaserangan daripada Israel dan Amerika terhadap Iran, dan kemungkinan dampak-dampaknya terhadap Indonesia,” ujar Nusron.
Tak cuma soal luar negeri, pembicaraan juga merambah ke isu domestik. Kondisi ekonomi dan sosial terkini menjadi topik kedua yang mendapat perhatian serius.
“Kemudian, yang kedua menjelaskan kondisi kekinian tentang ekonomi dan sosial keadaan yang ada di Indonesia,” imbuhnya.
Dari pertemuan itu, muncul sebuah kesepahaman. Para ulama dan pimpinan ormas sepakat untuk menjalin komunikasi yang lebih intensif dengan pemerintah. Mereka berusaha memahami setiap sikap yang diambil Presiden dalam menghadapi dinamika yang kompleks.
“Dari pertemuan tadi, para ulama, para pimpinan ormas Islam bersepakat untuk menjalin komunikasi yang intensif, serta memahami sikap-sikap yang diambil oleh pemerintah Indonesia, oleh Bapak Presiden. Dan kemudian mengambil satu kesimpulan, berharap kepada pimpinan ormas, tokoh-tokoh Islam ini bersama dengan Bapak Presiden dalam satu barisan,” papar Nusron.
Acara malam itu dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara. Tampak antara lain Ketua MPR Ahmad Muzani, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menko PMK Muhaimin Iskandar, dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Deretan tokoh agama yang hadir pun tak kalah mengesankan. Dari MUI hadir Anwar Iskandar, dari NU ada Miftachul Akhyar dan Gus Yahya Cholil Staquf. Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir juga hadir, bersama sejumlah pengasuh pesantren ternama seperti Kikin Abdul Hakim (Tebuireng), Hasan Abdullah Sahal (Gontor), dan Kafabihi Ali Mahrus (Lirboyo). Pertemuan itu, singkatnya, seperti gambaran miniatur persatuan umat Islam Indonesia di istana negara.
Artikel Terkait
Israel Perintahkan Penggunaan Kekuatan Penuh di Lebanon Meski Gencatan Senjata Berlaku
Menteri PAN-RB Rini Widyantini Pamerkan Karya Foto dalam Pameran Kartini Masa Kini
SIM Keliling Bandung Buka di Dua Titik Hari Ini
Susi Usulkan Ikan Sapu-sapu Diolah Jadi Pakan dan Pupuk