Rabu lalu di Bandara Soekarno-Hatta, Maya Watono, Direktur Utama InJourney, membeberkan rencana besar perseroannya. Holding BUMN aviasi dan pariwisata itu tak hanya mengurusi pesawat dan destinasi, tapi juga sedang bersiap mengonsolidasi lusinan hotel milik negara. Targetnya? Mengelola total 106 hotel.
“Saat ini, lewat InJourney Hospitality, kami baru mengelola 40 hotel di seluruh Indonesia,” ujar Maya dalam konferensi pers tersebut.
Namun begitu, angka itu bakal melonjak. “Nantinya, berbagai hotel BUMN di bawah InJourney akan dikonsolidasi. Sampai nanti jadi 106 hotel yang dikelola di bawah satu payung,” tambahnya. Artinya, ada 66 hotel lagi yang masuk dalam antrean, menunggu untuk diintegrasikan ke dalam portofolio mereka.
Misi InJourney sebenarnya cukup jelas: membangun ekosistem pariwisata dari hulu ke hilir. Selama ini, layanan-layanan itu berjalan sendiri-sendiri, seperti bekerja dalam ‘silo’. Kini, mereka ingin menyatukan semuanya transportasi udara, destinasi, hingga penginapan dalam satu kemudahan akses terpadu untuk masyarakat.
“Role kami adalah mengintegrasikan semua layanan,” lanjut Maya.
Alasannya kuat. Sektor pariwisata punya dampak ekonomi yang luar biasa. Maya menyebutkan, setiap kenaikan satu juta wisatawan mancanegara bisa menyuntikkan sekitar Rp40 triliun ke dalam PDB Indonesia. Bayangkan kalau tambahannya sepuluh juta? Angkanya mencapai Rp400 triliun. “Impact ekonomi dari aviasi dan pariwisata ini sangat besar,” katanya, menekankan potensi perputaran uang yang masif.
Artikel Terkait
IRGC Ancam Blokade Total Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Tembus USD 200 per Barel
Bank BJB Dorong Ekonomi Regional Lewat Event Lari 4 Kota di Jawa
Saudi Aramco Catat Laba Bersih USD 104,7 Miliar pada 2025, Lampaui Proyeksi Analis
Lebaran 2026: Lebih dari 2,5 Juta Tiket Kereta Api Terjual, Masih Tersedia 1,9 Juta Kursi