Menpora Erick Thohir Kecam Pelecehan Seksual oleh Pelatih Kickboxing di Jawa Timur

- Kamis, 12 Maret 2026 | 08:30 WIB
Menpora Erick Thohir Kecam Pelecehan Seksual oleh Pelatih Kickboxing di Jawa Timur

Kasus pelecehan seksual di dunia olahraga kita ternyata tak cuma berhenti di panjat tebing. Belakangan, sorotan beralih ke cabang kickboxing. Seorang atlet putri Jawa Timur, berinisial VAP (24), membongkar pengalaman pahitnya lewat unggahan di media sosial.

"Aku memendam kejadian ini sejak lama," tulisnya di Instagram. "Aku takut bersuara karena dia adalah ketua, dan aku hanyalah seorang atlet yang seharusnya fokus untuk juara."

Namun, diam yang terlalu lama justru membuat beban semakin berat. "Tapi, diam terlalu lama membuat luka ini semakin berat," imbuhnya. Saat ini, Polda Jawa Timur telah menetapkan seorang tersangka, berinisial WPC.

Menpora Erick: Saya Merasakan Kepedihan

Jeritan hati sang atlet ini langsung mendapat perhatian serius dari Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir. Ia tak segan menyampaikan kecamannya, sekaligus mengapresiasi keberanian korban untuk bersuara.

"Cerita atlet kickboxing tentang kekerasan seksual yang dialaminya sungguh membuat kita semua terluka," ujar Erick dalam keterangan resmi.

"Saya merasakan kepedihan ketika membaca proses dan perjuangan korban untuk mendapatkan keadilan."

Yang ironis, terduga pelaku justru seorang pelatih sekaligus ketua pengurus provinsi. Posisi yang seharusnya jadi tempat berlindung. "Yang seharusnya amanah dalam mengayomi, menjaga, membantu dan membina atlet," imbuhnya dengan nada kecewa.

Erick menegaskan, dua kasus kekerasan seksual terbaru ini punya pola serupa: penyalahgunaan wewenang oleh pelatih. Ia mengecam keras hal itu. "Dunia olahraga harus menjadi ruang yang aman, bermartabat," tegasnya. Ia berharap penetapan tersangka ini bisa mengantar pada keadilan yang nyata bagi korban.

Ancaman Sanksi Paling Berat: Diusir Selamanya

Di sisi lain, Menpora juga mengingatkan soal konsekuensi terberat. Relasi kuasa dan jabatan sama sekali bukan alat untuk merugikan atlet. Bagi yang terbukti melakukannya, hukuman menanti.

"Tidak boleh lagi dilibatkan dalam dunia olahraga seumur hidup," kata Erick dengan tegas. "Tidak ada toleransi dan tidak ada tempat bagi mereka yang menyalahgunakan kekuasaan."

Pesan itu jelas. Dunia olahraga harus bersih dari segala bentuk kekerasan, apalagi yang memanfaatkan ketimpangan posisi.

Membangun Sistem Perlindungan yang Nyata

Lantas, langkah ke depan seperti apa? Kemenpora mendorong semua organisasi olahraga dan pemangku kepentingan untuk bergerak. Sistem perlindungan atlet harus diperkuat, agar sejarah kelam ini tidak terulang.

"Kita harus bersama-sama membangun lingkungan olahraga yang sehat, aman, dan berintegritas," tutup Menpora Erick. Atlet, menurutnya, berhak berprestasi tanpa diliputi rasa takut. Mereka butuh sistem pendukung yang konkret, bukan sekadar wacana.

Kini, semua mata tertuju pada proses hukum yang berjalan. Sementara itu, keberanian satu atlet untuk bicara, mungkin telah membuka jalan bagi yang lain untuk tidak lagi diam.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar