Wall Street Terbelah: Trump Guncang Sektor Keuangan, AI Tahan Nasdaq Tetap Hijau

- Kamis, 08 Januari 2026 | 06:55 WIB
Wall Street Terbelah: Trump Guncang Sektor Keuangan, AI Tahan Nasdaq Tetap Hijau

Wall Street menutup sesi Rabu (7/1) dengan pergerakan yang beragam. S&P 500 akhirnya melemah, tertekan oleh penjualan besar-besaran di sektor keuangan. Di sisi lain, Nasdaq justru berhasil naik tipis, ditopang oleh rebound saham-saham teknologi seperti Nvidia dan Alphabet.

Indeks S&P 500 turun 0,34% ke level 6.920,93 poin. Dow Jones bahkan merosot lebih dalam, 0,94%, ke 48.996,08 poin. Padahal, kedua indeks itu sempat mencetak rekor tertinggi baru di awal sesi. Nasdaq, meski cuma naik 0,16% ke 23.584,28 poin, setidaknya berhasil bertahan di zona hijau.

Pemicu utama tekanan datang dari sektor keuangan dan properti. Saham-saham raksasa seperti JPMorgan Chase dan Blackstone anjlok, menarik indeks sektor keuangan S&P 500 turun 1,4%. Penurunan JPMorgan dipicu oleh penurunan rekomendasi dari Wolfe Research. Sementara itu, sentimen negatif ke Blackstone dan perusahaan akuisisi perumahan lainnya datang langsung dari Presiden Donald Trump.

Trump mengatakan akan melarang pembelian rumah tapak oleh korporasi besar, sebuah langkah yang ia yakini bisa menekan harga. Imbasnya langsung terasa. Saham American Homes 4 Rent ikut merosot. Namun begitu, bukan semua perusahaan properti terpuruk. Zillow justru naik lebih dari 2%, mungkin karena dianggap akan mendapat manfaat dari kebijakan baru ini.

Bukan cuma sektor properti yang dapat perhatian khusus Trump. Dalam unggahan media sosialnya, ia juga menyentuh perusahaan pertahanan. Trump menyatakan tidak akan mengizinkan buyback saham atau pembagian dividen bagi kontraktor pertahanan yang bermasalah dengan produksi peralatan militer. Meski tak menyebut nama, pasar langsung bereaksi. Saham Northrop Grumman dan Lockheed Martin anjlok masing-masing 5,5% dan 4,8%.

Di tengah keributan itu, ada cerita lain yang berkembang. Saham-saham teknologi terkait AI justru bangkit. Nvidia dan Microsoft naik sekitar 1%, sementara Alphabet melonjak lebih dari 2%. Tampaknya, kekhawatiran soal valuasi yang terlalu mahal mulai dikesampingkan investor.

“Investor memasuki 2026 dengan pola yang mirip tahun lalu, beli saham teknologi dan lupakan. Rumor bahwa reli AI sudah berakhir ternyata tidak benar,”

kata Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma.

Menjelang musim laporan keuangan, harga saham memang masih terlihat mahal. S&P 500 diperdagangkan di kisaran 22 kali estimasi laba. Angka itu turun dari November, tapi masih jauh di atas rata-rata historisnya.

Data ekonomi yang dirilis Rabu juga cukup beragam. Lowongan kerja AS turun lebih dalam dari perkiraan di November. Laporan ADP juga menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja swasta di Desember lebih lemah. Namun begitu, data-data ini tampaknya tidak cukup kuat untuk mengubah ekspektasi pasar soal kebijakan Federal Reserve. Semua mata kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan utama yang akan dirilis Jumat.

Perkembangan geopolitik juga jadi bahan perhatian. AS menyita sebuah kapal tanker berbendera Rusia yang terkait Venezuela, bagian dari langkah agresif Trump untuk mengatur arus minyak di kawasan. Selain itu, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump sedang membahas opsi untuk mengakuisisi Greenland, bahkan dengan kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Berita-berita seperti ini selalu punya potensi menggoyang sentimen.

Di bagian lain pasar, reli saham memori dan penyimpanan tampaknya kehabisan tenaga. Western Digital dan Seagate Technology melepas kenaikan sebelumnya dengan penurunan yang cukup tajam. Sementara itu, saham First Solar merosot 10% setelah rekomendasi dari Jefferies diturunkan.

Intinya, sesi Rabu di Wall Street adalah gambaran klasik dari pasar yang sedang bingung. Di satu sisi, ada kekhawatiran akan kebijakan baru dan valuasi tinggi. Di sisi lain, daya tarik cerita teknologi dan AI masih terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja. Pertarungan antara kedua narasi ini yang akan menentukan arah pasar ke depan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar