Rencana konsolidasi ini sejalan dengan wacana yang sudah digaungkan sebelumnya. Dony Oskaria, COO Danantara, pernah menjelaskan bahwa banyak BUMN punya model bisnis serupa. Hal ini dinilai tidak efisien dan malah menciptakan persaingan yang kurang sehat antar perusahaan negara sendiri.
“Kedepan, perusahaan negara di sektor yang sama akan digabung,” kata Dony pada Juni tahun lalu.
Logikanya sederhana: dengan menggabungkan kekuatan, perusahaan bisa jadi lebih besar dan fokus. Dampak ekonominya pun diharapkan akan lebih signifikan. Dony memberi contoh nyata: “Kita punya sekitar 130 hotel yang tersebar di berbagai perusahaan, seringkali tak dikelola secara profesional. Nanti hotel-hotel itu akan ditarik jadi satu holding hotel.”
Konsep seperti ini, menurutnya, akan merampingkan jumlah BUMN. Dari sekitar 888 perusahaan saat ini, diperkirakan hanya akan tersisa kurang dari 200 perusahaan yang benar-benar solid dan berdampak.
Jadi, langkah InJourney hari ini bukan sekadar menambah jumlah kamar hotel. Ini adalah bagian dari strategi besar merapikan rumah sendiri, agar kontribusinya bagi perekonomian nasional bisa benar-benar terasa.
Artikel Terkait
IRGC Ancam Blokade Total Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Tembus USD 200 per Barel
Bank BJB Dorong Ekonomi Regional Lewat Event Lari 4 Kota di Jawa
Saudi Aramco Catat Laba Bersih USD 104,7 Miliar pada 2025, Lampaui Proyeksi Analis
Lebaran 2026: Lebih dari 2,5 Juta Tiket Kereta Api Terjual, Masih Tersedia 1,9 Juta Kursi