IRGC Ancam Blokade Total Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Tembus USD 200 per Barel

- Kamis, 12 Maret 2026 | 08:35 WIB
IRGC Ancam Blokade Total Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Tembus USD 200 per Barel

Suara ancaman dari Iran terdengar keras dan jelas. Korps Garda Revolusi Islam, atau IRGC, menyatakan mereka takkan berhenti menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz. Targetnya? Semua yang punya kaitan dengan Amerika Serikat dan Israel. Bahkan, mereka bersumpah tak akan membiarkan satu liter minyak pun bocor melewati selat sempit itu.

“Setiap kapal yang terkait AS, Israel, atau sekutunya adalah target sah,” tegas seorang juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya IRGC, Rabu lalu. Pernyataannya langsung mengguncang pasar.

Dan wajar saja. Selat Hormuz itu bukan jalur sembarangan. Ia adalah urat nadi distribusi minyak dari kawasan Teluk. Gangguan sedikit saja, gejolaknya terasa ke seluruh dunia.

IRGC sendiri sudah memproyeksikan imbasnya. Mereka menyebut harga minyak bisa melesat hingga USD 200 per barel jika selat itu ditutup. “Anda tidak bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Perkirakan saja angka itu,” kata sang juru bicara, menantang.

Kenyataannya, harga minyak global memang sudah naik-turun tak karuan sejak konflik AS-Israel dengan Iran memanas. Serangan balasan dengan rudal dan drone di seluruh Timur Tengah hanya menambah ketegangan. Ditambah lagi, produksi di beberapa negara Teluk melambat. Semua faktor ini bikin investor resah.

p>Belum lagi soal waktu. Perang yang dimulai akhir Februari itu belum tampak ujungnya. Ketidakpastian ini jadi bahan bakar lain yang mendorong harga melambung tinggi.

Di tengah situasi genting ini, insiden di lapangan sudah terjadi. Rabu kemarin, tiga kapal dilaporkan terkena proyektil di Selat Hormuz. Salah satunya kapal kargo berbendera Thailand, diserang sekitar 18 kilometer di utara Oman. Risiko nyata, bukan lagi sekadar ancaman di atas kertas.

Namun begitu, respons dari Gedung Putih justru mendorong keberanian. Presiden AS Donald Trump malah menganjurkan kapal-kapal untuk terus melintas. “Saya pikir mereka harus,” ujarnya ketika ditanya. Trump tampaknya percaya diri, “Anda akan melihat keamanan yang luar biasa, dan itu akan terjadi dengan sangat, sangat cepat.”

Di sisi lain, kekhawatiran kemanusiaan mulai mengemuka. Tom Fletcher, seorang kepala bantuan PBB, bersuara lantang. Dia menyerukan pengecualian untuk konvoi bantuan yang harus melewati selat itu. Pasokan untuk daerah-daerah kritis, seperti Afrika sub-Sahara, terhambat.

“Kami mengimbau semua pihak untuk mengamankan rute, termasuk Selat Hormuz, untuk lalu lintas kemanusiaan. Agar kami bisa menjangkau siapa pun berdasarkan kebutuhan terbesar,” pinta Fletcher.

Ancaman, proyeksi harga gila-gilaan, insiden di laut, dan seruan kemanusiaan. Semuanya beradu di perairan sempit yang jadi kunci stabilitas energi global. Sekarang, semua mata tertuju ke sana, menunggu langkah selanjutnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar