AS dan Suriah Jalin Kemitraan Strategis untuk Stabilitas Timur Tengah
Washington - Dalam perkembangan geopolitik yang mengejutkan, Amerika Serikat secara resmi merangkul Suriah sebagai mitra strategis baru di kawasan Timur Tengah. Langkah bersejarah ini mengubah hubungan kedua negara yang sebelumnya bermusuhan menjadi kemitraan yang saling menguntungkan.
Kunjungan Bersejarah di Gedung Putih
Perubahan hubungan bilateral ini ditandai dengan kunjungan resmi Presiden Suriah Ahmad Al Sharaa ke Gedung Putih. Pertemuan bersejarah ini merupakan yang pertama kalinya dalam hubungan diplomatik kedua negara sejak Suriah merdeka pada dekade 1940-an.
Presiden Donald Trump memberikan pujian tinggi kepada pemimpin Suriah tersebut, menyebut Sharaa sebagai figur pemimpin yang kuat dan tangguh. Trump menegaskan komitmen AS untuk mendukung kesuksesan Suriah sebagai bagian penting dari stabilitas kawasan Timur Tengah.
Langkah Nyata Pencabutan Sanksi
Sebagai bukti komitmen baru ini, pemerintah AS secara resmi mencabut berbagai sanksi ekonomi yang selama ini membebani Suriah. Pencabutan ini termasuk menghentikan penerapan Undang-Undang Caesar yang sebelumnya membatasi aktivitas ekonomi Damaskus.
Artikel Terkait
ADB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,2% pada 2026-2027
Trump Tuduh Iran Langgar Kesepakatan Damai di Selat Hormuz
BTN dan KAI Garap Hunian Vertikal Terintegrasi Stasiun di Jakarta
BTN Targetkan Kapasitas KPR Meningkat Hingga 400.000 Unit per Tahun