Sementara itu, tudingan spesifik dilayangkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Mereka menyebut sebuah tragedi memilukan di sebuah sekolah berasal dari pangkalan militer AS.
Serangan rudal jelajah jarak jauh yang terjadi pada 28 Februari lalu, menargetkan sekolah Shajare Tayebe di selatan Iran. Akibatnya, 165 siswi dilaporkan tewas. Sebuah gedung pendidikan berubah menjadi kuburan massal dalam sekejap.
"Sasarannya adalah Pangkalan Udara Al Dhafra di UEA milik teroris Amerika Serikat. Serangan kriminal terhadap sekolah itu dilakukan dari pangkalan ini," bunyi pernyataan resmi IRGC, dengan nada keras yang penuh kecaman.
Di sisi lain, dari Washington, tanggapan datang dari Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Pihaknya menyatakan sedang menyelidiki laporan serangan terhadap sekolah di Iran tersebut. Pernyataan itu singkat, belum banyak mengungkap detail lebih lanjut.
Dua narasi, dua versi, namun satu realita: korban anak-anak terus berjatuhan. Situasinya semakin rumit dan suram, dengan setiap pihak saling menyalahkan sementara dunia menyaksikan.
Artikel Terkait
Lebih dari 14 Ribu Jamaah Umrah Indonesia Dipulangkan Imbas Ketegangan di Timur Tengah
APBN Defisit Rp135,7 Triliun, Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen
Menkeu Siapkan Penghematan Anggaran Hadapi Ancaman Defisit Akibat Harga Minyak
Menteri Keuangan Siapkan Skenario Antisipasi Defisit Jika Harga Minyak Capai USD92