Jakarta, Kamis sore (5/3) – Perry Barman Slangor, Presiden Direktur PT Akulaku Finance Indonesia, tampak cukup puas membahas kinerja perusahaannya. Di tengah cuaca Jakarta yang gerah, ia memaparkan angka-angka yang menurutnya menunjukkan pertumbuhan yang sehat. Total penyaluran pembiayaan mereka tahun lalu, katanya, menyentuh Rp7,44 triliun. Angka ini belum diaudit, tapi sudah menunjukkan lompatan sekitar 23 persen dibandingkan realisasi di tahun 2024.
“Pertumbuhan ini juga menyeimbangi dari penerapan manajemen risiko yang cukup konservatif,” ujar Perry. “Pertumbuhan kami in fact di tahun lalu itu mencapai Rp7,4 triliun, jadi (meningkat) dibandingkan tahun sebelumnya di tahun 2024 (yang) mencapai Rp6 triliun.”
Menurutnya, capaian itu bukan datang tiba-tiba. Pendorong utamanya adalah volume transaksi yang luar biasa tinggi, mencapai 46,5 juta kali. Mayoritas, tentu saja, digerakkan oleh layanan Buy Now Pay Later atau yang akrab disebut paylater.
Produk BNPL ini rupanya jadi andalan. Kontribusinya mendominasi portofolio pembiayaan perusahaan dengan porsi yang sangat besar, yaitu 89 persen dari total keseluruhan. Dominasi yang cukup signifikan.
“Dan pertumbuhan ini not just on the top line,” lanjut Perry bersemangat, “tapi juga kami dapat nge-manage juga di middle line, sehingga bottom line kami secara profitability itu juga tumbuh dengan sangat baik.”
Klaimnya terbukti dalam angka laba. Profitabilitas perusahaan disebut melonjak tajam 66 persen year-on-year. Dari posisi Rp65 miliar di tahun 2024, mereka berhasil membukukan laba bersih Rp108 miliar pada 2025. Lonjakan yang cukup impresif.
Tak cuma laba, nilai piutang pembiayaan yang dikelola atau managed loan receivables juga ikut membesar, mencapai Rp2,5 triliun.
Namun begitu, yang menarik justru di balik pertumbuhan yang pesat itu. Perry menekankan bahwa kualitas portofolio mereka tetap terjaga. Meski penyaluran dan transaksi naik signifikan, indikator rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing) net justru berhasil ditekan. Angkanya terjaga di level yang sangat sehat, hanya 1,1 persen.
Di sisi lain, struktur keuangan perusahaan juga tampak solid. Rasio utang terhadap ekuitas mereka tercatat stabil dan masih tergolong rendah, yaitu sekitar 2 kali. Kombinasi yang ideal antara pertumbuhan agresif dan fundamental yang kuat.
“Jadi di tahun 2025 adalah basically tahun di mana kami dapat tumbuh secara sehat, berkelanjutan dengan praktek manajemen risiko yang konservatif,” imbuhnya menutup pembicaraan.
Secara keseluruhan, laporan dari Akulaku Finance ini menggambarkan sebuah pencapaian yang berusaha seimbang. Tumbuh cepat, tapi tetap berusaha menjaga agar tidak terjebak dalam masalah kredit macet. Sebuah tantangan yang tidak mudah di industri pembiayaan digital yang kompetitif.
Artikel Terkait
Pakar Hukum Soroti Pasal Bermasalah dalam RUU Perampasan Aset
Presiden Brasil Lula Kritik PBB Gagal Hentikan Konflik Global di Tengah Pameran Hanover
Tamu Hotel di Gunung Sahari Curi Uang dan Dokumen Saat Resepsionis Sarapan
Hujan Deras di Bogor Picu 17 Titik Bencana, Rumah Tertimpa Longsor