Studi Ungkap Dampak Ekonomi Ramadan: Harga Pangan Naik, Produksi Industri Turun

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 10:35 WIB
Studi Ungkap Dampak Ekonomi Ramadan: Harga Pangan Naik, Produksi Industri Turun

Bagi umat Islam, Ramadan tentu saja bulan untuk beribadah dan melatih pengendalian diri. Tapi coba lihat dari kacamata lain. Bagi seorang ekonom, bulan suci ini justru jadi fenomena ekonomi yang luar biasa kompleks. Pola konsumsi berubah drastis, jam kerja bergeser, dan pergerakan harga-harga kerap jadi sorotan. Intinya, Ramadan menciptakan dinamika tersendiri dalam perekonomian. Fenomena inilah yang bisa kita sebut sebagai "Ramadanomics".

Nah, sebuah studi di Turki yang dilakukan Eyerci, Toprak, dan Demir (2021) mengonfirmasi hal ini. Mereka menemukan fakta menarik: harga sejumlah pangan melonjak signifikan selama Ramadan. Yang tak kalah penting, produksi industri justru menunjukkan tren penurunan. Temuan ini jelas menunjukkan bahwa Ramadan bukan cuma urusan spiritual, tapi punya konsekuensi ekonomi yang nyata dan terukur.

Lantas, kenapa harga bisa naik? Secara teori sederhana, harga akan terdorong saat permintaan melesat lebih cepat ketimbang penawaran. Selama Ramadan, orang tetap makan, tapi polanya berubah total. Aktivitas makan yang biasanya tersebar sepanjang hari, tiba-tiba terkonsentrasi hanya pada dua waktu: sahur dan berbuka puasa.

Siang hari mungkin sepi. Tapi coba lihat saat maghrib tiba. Permintaan melonjak secara serentak. Banyak keluarga menyiapkan hidangan yang lebih spesial, belanja bahan makanan dalam jumlah besar untuk persiapan sebulan, dan meningkatkan pembelian komoditas seperti telur, daging ayam, atau makanan olahan.

Konsentrasi permintaan dalam waktu singkat inilah yang kerap memicu tekanan pada harga. Penelitian di Turki itu menunjukkan, harga susu, daging kambing, dan daging sapi naik signifikan selama Ramadan. Lonjakan permintaan musiman rupanya punya kekuatan untuk mendongkrak harga.

Fenomena ini sangat akrab di Indonesia. Hampir tiap tahun kita menyaksikan ritual yang sama: harga cabai, daging, telur, dan gula merangkak naik jelang dan selama Ramadan. Bahkan, kenaikan itu sering kali sudah terasa di bulan Syaban, sebelum puasa dimulai.

Mengapa bisa lebih awal? Dalam kerangka ekspektasi rasional, pedagang dan pelaku usaha sudah mengantisipasi lonjakan permintaan ini. Alhasil, harga mulai dinaikkan lebih dini sebagai respons terhadap perkiraan mereka. Belum lagi soal distribusi yang kerap belum optimal, yang makin memperkuat tekanan harga tersebut.

Dalam teori makro, inflasi bisa bersifat struktural, siklikal, atau musiman. Ramadan jelas masuk faktor musiman. Tapi ada tantangannya: kalender Hijriah bergeser sekitar 10-11 hari setiap tahunnya. Jadi, dampak ekonominya tidak tetap pada bulan yang sama dalam kalender Masehi.

Menariknya, penelitian di Turki itu melakukan rekonstruksi data ekonomi ke dalam kalender Hijriah. Tujuannya, agar dampak Ramadan bisa diidentifikasi lebih akurat. Tanpa penyesuaian seperti ini, efek Ramadan bisa tersamar dalam pola tahunan biasa. Untuk Indonesia, pendekatan serupa mungkin bisa membantu analisis inflasi dan perumusan kebijakan moneter jadi lebih tepat.

Namun begitu, dampak Ramadan tidak berhenti di sisi permintaan. Studi yang sama menemukan bahwa produksi manufaktur dan pertambangan di Turki justru menurun selama bulan puasa. Rata-rata, pertumbuhan produksinya lebih rendah dibanding bulan lain.

Penurunan ini masuk akal. Coba pikirkan: jam kerja sering dipersingkat, ritme kerja berubah, dan banyak pekerja yang mengambil cuti mendekati Lebaran. Wajar saja kalau produktivitas dan kapasitas produksi tidak berjalan optimal.

p>Kalau kita kaitkan dengan model permintaan dan penawaran agregat, situasinya jadi makin menarik. Di satu sisi, permintaan agregat naik karena konsumsi rumah tangga melonjak. Di sisi lain, penawaran agregat jangka pendek justru berpotensi turun karena produksi dan distribusi melambat. Kombinasi ini bisa mendorong kenaikan harga dengan kekuatan yang lebih besar. Kita sering lihat kondisi serupa di Indonesia, terutama saat arus mudik memperlambat segala aktivitas ekonomi jelang Idul Fitri.

Efek Ramadan ternyata juga tidak terbatas hanya pada satu bulan. Dampak kenaikan harga bisa merembet ke bulan sebelum dan sesudahnya, yaitu Syaban dan Syawal. Analisis terhadap ketiga bulan ini secara bersama malah menunjukkan dampak yang lebih signifikan pada beberapa komoditas.

Ini sejalan dengan pengalaman kita. Harga seringkali sudah naik sebelum Ramadan, dan tidak serta merta turun usai Lebaran. Dalam teori ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai kekakuan harga atau price rigidity harga cenderung lebih mudah naik daripada turun.

Lalu, apa implikasi kebijakannya bagi Indonesia? Pertama, stabilisasi harga pangan harus dimulai lebih awal, bahkan sejak bulan Syaban. Operasi pasar, penguatan distribusi, dan koordinasi antar daerah perlu diintensifkan.

Kedua, pemerintah perlu memastikan sisi produksi tetap berjalan optimal selama Ramadan. Jangan sampai lonjakan permintaan justru dibarengi dengan penurunan pasokan. Ketiga, analisis ekonomi dengan mempertimbangkan kalender Hijriah bisa dijadikan pertimbangan untuk akurasi yang lebih baik.

Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan solidaritas dan pengendalian diri. Tapi secara nyata, ia juga memperlihatkan bagaimana perilaku kolektif masyarakat bisa menggerakkan dinamika ekonomi nasional. Ekonomi bukan cuma angka dan grafik; ia adalah cerminan langsung dari perilaku manusia. Ketika jutaan orang mengubah pola hidupnya secara serentak, dampaknya terasa pada inflasi, produksi, dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Ramadanomics mengingatkan kita: kebijakan ekonomi tak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya. Di Indonesia, di mana mayoritas penduduk menjalankan ibadah puasa, memahami dinamika ekonomi Ramadan adalah kunci menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan. Dengan pengelolaan yang tepat, Ramadan tak hanya menjadi bulan penuh berkah secara spiritual, tapi juga bisa tetap stabil dan sehat secara ekonomi.

M Abd Nasir.
Dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar