Di kantornya di Jakarta, Jumat lalu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka kartu soal ancaman fiskal yang sedang dihadapi pemerintah. Ancaman itu datang dari harga minyak mentah global yang terus merangkak naik. Purbaya mengungkapkan, pemerintah sudah melakukan simulasi mendalam untuk mengukur dampaknya terhadap APBN. Hasilnya? Cukup mengkhawatirkan.
“Kita sudah exercise kalau harga minyak USD 92 selama setahun rata-rata, maka defisitnya jadi 3,6 persen lebih tadi,” ujar Purbaya.
Angka itu, menurutnya, berisiko membengkak hingga 3,7 persen terhadap PDB. Jelas, posisi itu sudah di luar batas aman yang diinginkan. Nah, pertanyaannya sekarang: apa yang akan dilakukan?
Purbaya menyebut sejumlah langkah mitigasi sudah disiapkan. Intinya adalah penghematan. Pemerintah bakal mengencangkan ikat pinggang dengan memangkas belanja di pos-pos non-prioritas pada beberapa program besar. Tujuannya satu: mencegah defisit meledak tak terkendali.
“Kalau itu kita akan melakukan langkah-langkah supaya tidak terjadi. Bisa penghematan di mana? Misalnya penghematan di MBG,” imbuhnya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang jadi sorotan. Tahun ini, anggarannya tidak main-main: Rp335 triliun untuk menjangkau 82,9 juta penerima. Naik drastis dari tahun sebelumnya. Tapi, Purbaya menegaskan, penghematan yang dimaksud tidak akan menyentuh inti program.
Komitmen terhadap MBG sebagai prioritas nasional tetap dipegang teguh. Yang akan dipangkas adalah komponen pendukung yang dianggap tidak langsung menyentuh kualitas makanan itu sendiri.
Artikel Terkait
Lebih dari 14 Ribu Jamaah Umrah Indonesia Dipulangkan Imbas Ketegangan di Timur Tengah
APBN Defisit Rp135,7 Triliun, Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen
Menteri Keuangan Siapkan Skenario Antisipasi Defisit Jika Harga Minyak Capai USD92
Filipina Terapkan Kerja Empat Hari Seminggu untuk Kantor Pemerintah, Antisipasi Krisis Energi Global