Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku sudah menyiapkan skenario. Simulasinya berkaitan dengan dampak fluktuasi harga minyak terhadap kondisi anggaran negara. Intinya, situasinya bisa runyam kalau harga terus meroket.
Dalam sebuah Media Briefing sekaligus buka puasa bersama, Jumat lalu, Purbaya membeberkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Menurutnya, jika harga minyak mentah dunia rata-rata menyentuh level USD92 per barel, tekanan terhadap defisit anggaran bakal luar biasa besar.
“Kalau harga minyak naik ke USD92 per barel apa dampaknya ke defisit? Kalau tidak melakukan apa-apa defisit kita naik ke 3,6 sampai 3,7 persen dari PDB,” ujar Purbaya.
Padahal, target pemerintah jelas: menjaga defisit anggaran tetap di bawah batas aman 3 persen dari Produk Domestik Bruto. Itu batas yang sudah dianggap sakral. Nah, untuk mempertahankannya, berbagai opsi pun diletakkan di atas meja.
Opsi yang paling banyak dibicarakan adalah penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Langkah ini dianggap sebagai tameng untuk mengantisipasi guncangan dari lonjakan harga minyak mentah global. Namun begitu, Purbaya menegaskan bahwa menaikkan harga BBM bukanlah pilihan pertama. Itu adalah jalan terakhir, yang hanya akan diambil jika ruang gerak fiskal benar-benar sudah sempit.
“Kalau memang anggarannya tidak kuat sekali, tidak ada jalan lain, ya kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM kalau memang,” tuturnya lagi.
Artikel Terkait
Lebih dari 14 Ribu Jamaah Umrah Indonesia Dipulangkan Imbas Ketegangan di Timur Tengah
APBN Defisit Rp135,7 Triliun, Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen
Menkeu Siapkan Penghematan Anggaran Hadapi Ancaman Defisit Akibat Harga Minyak
Filipina Terapkan Kerja Empat Hari Seminggu untuk Kantor Pemerintah, Antisipasi Krisis Energi Global