Di sisi lain, situasi itu justru memperluas perannya. Rumiatun tak cuma jadi agen transaksi, tapi juga guru keuangan informal. Ia dengan sabar memberi pemahaman tentang manfaat menabung di bank dan bertransaksi secara formal. Perlahan, kepercayaan warga tumbuh. Kiosnya menjadi lebih dari sekadar tempat jual-beli; ia menjadi pusat ekonomi dan keuangan warga.
Setelah delapan tahun menjalani peran ini, Rumiatun merasa bersyukur. Ia berterima kasih pada BRI atas kesempatannya membantu masyarakat. Harapannya ke depan sederhana: mengoptimalkan layanannya dan memperluas jaringan pelanggan. Baginya, kunci utamanya adalah pelayanan yang konsisten, jujur, dan amanah.
Upaya seperti yang dilakukan Rumiatun ini sejalan dengan visi yang digaungkan institusi. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, dalam kesempatan terpisah menyebut bahwa keterlibatan masyarakat sebagai agen adalah bagian dari strategi menciptakan sharing economy dan mendorong inklusi keuangan.
“Peran BRILink Agen tersebut kini telah bertransformasi, dari penyedia layanan transaksi menjadi lifestyle micro provider. Hal tersebut menggambarkan konsistensi BRI dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif dan memberdayakan,” pungkas Akhmad.
Hingga akhir 2025, jumlah agen seperti Rumiatun telah melampaui 1,1 juta, tersebar di puluhan ribu desa termasuk di daerah-daerah yang terpencil sekalipun. Mereka adalah ujung tombak yang menghidupkan denyut ekonomi di garis depan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Gelar Buka Puasa Bersama Ulama di Tengah Sorotan Desakan MUI Soal Board of Peace
Pemerintah Lampaui Target Revitalisasi 16.167 Sekolah, Usul Tambah Dana Rp89,49 Triliun
Pemerintah Jamin Harga Pertalite Tak Naik Sampai Lebaran 2026
Kilang Aramco di Ras Tanura Kembali Diserang Drone, Tidak Ada Kerusakan