Mensos Kritik Ego Sektoral Data, Soroti Pentingnya Data Tunggal untuk Bansos

- Rabu, 04 Maret 2026 | 19:35 WIB
Mensos Kritik Ego Sektoral Data, Soroti Pentingnya Data Tunggal untuk Bansos

Di aula yang ramai di Cikarang, Menteri Sosial Syaifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, berbicara blak-blan. Topiknya adalah Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), sebuah program yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Acara bertajuk 'Kolaborasi Program Prioritas Presiden' itu digelar Rabu lalu, dan Gus Ipul tak sungkan mengurai masalah klasik birokrasi kita: data.

Menurutnya, selama ini tiap kementerian dan lembaga seolah-olah berjalan sendiri-sendiri. Mereka punya database-nya masing-masing.

"Setiap kementerian punya data sendiri-sendiri. Kementerian Sosial gagah punya data sendiri. Bappenas gagah punya data sendiri. Kemudian nanti PLN punya sendiri, BKKBN punya sendiri," ujarnya.

Suaranya terdengar getir. "Punya data sendiri-sendiri, akhirnya daerah pusing bikin data sendiri-sendiri."

Nah, kondisi itulah yang kemudian memicu masalah lebih dalam. Gus Ipul menilai kumpulan data yang terpisah-pisah itu justru melahirkan ego sektoral yang kental. Imbasnya, penyaluran bantuan sosial pun jadi tak terkoordinasi, masing-masing pakai patokan datanya sendiri.

"Pusing bikin sendiri, sehingga provinsi punya data sendiri, kabupaten punya data sendiri," lanjutnya. "Akhirnya yang terjadi adalah ego sektoral. Kementerian Sosial punya data sendiri, sombong ini, gaya-gayaan banget."

Gambaran yang dilukiskannya terasa nyata sekaligus menggelikan. Ia mendeskripsikan sebuah siklus yang berputar di tempat.

"Diatur-atur sendiri, habis itu menyalurkan bansos, disalurkan sendiri, dievaluasi sendiri, akhirnya tepuk tangan sendiri," jelas Gus Ipul.

"Orang lain mau tepuk tangan terserah, nggak tepuk tangan terserah, yang penting urusan kita beres. Yang lain juga sama melakukan hal yang sama. Data saya ini, yang saya salurkan ya ini. Habis itu diukur sendiri, tepuk tangan sendiri."

Poinnya jelas. Kerja yang seharusnya kolaboratif malah berubah jadi perlombaan klaim keberhasilan individu. Di sinilah DTSEN diharapkan jadi solusi pemersatu, mengakhiri kekacauan data yang sudah berlangsung lama.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar