Indonesia Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Antisipasi Penutupan Selat Hormuz

- Selasa, 03 Maret 2026 | 19:40 WIB
Indonesia Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Antisipasi Penutupan Selat Hormuz

Ketegangan di Timur Tengah yang memuncak, terutama antara Iran dengan Israel dan AS, akhirnya memaksa pemerintah Indonesia mengambil langkah tak biasa. Menyusul penutupan Selat Hormuz, impor minyak mentah dan BBM yang biasanya kita ambil dari kawasan itu, kini dialihkan ke Amerika Serikat. Langkah ini diambil untuk mengamankan pasokan energi dalam negeri di tengah situasi geopolitik yang benar-benar tak menentu.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan hal itu dalam sebuah konferensi pers di kantornya, Selasa lalu. Menurutnya, ini murni langkah antisipasi.

"Setelah kami hitung detail, total impor crude dari Timur Tengah sekitar 20-25 persen. Nah, skenarionya sekarang, sebagian yang biasa kita ambil dari sana kita alihkan ke Amerika,"

jelas Bahlil.

Ia menegaskan, pengalihan ini didasari skenario terburuk. Pemerintah enggan berasumsi konflik akan cepat reda. Meski ada yang bilang cuma butuh hitungan hari atau minggu, realitanya situasi sulit ditebak. Bisa cepat selesai, bisa juga berlarut-larut.

"Sekalipun ada yang mengatakan selesai lima hari atau empat minggu, keyakinan kami setelah kajian, ini tidak bisa kita ramalkan kapan selesai. Maka kita ambil alternatif terjelek,"

tambahnya tegas.

Dengan ditutupnya Selat Hormuz, yang selama ini dilalui 20-25 persen impor minyak kita dari Timur Tengah, pemerintah memutuskan menggeser seluruh porsi itu ke AS. Tujuannya satu: menjaga ketahanan energi agar tak terganggu.

Memang, dampak penutupan selat itu bukan main-main. Bahlil mengingatkan, Selat Hormuz adalah jalur energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global atau setara 20,1 juta barel per hari melintas di sana. Guncangannya bukan cuma soal militer, tapi juga stabilitas energi dunia yang bisa kacau balau.

Di sisi lain, sebenarnya Indonesia punya cadangan. Selama ini, selain Timur Tengah dan AS, kita juga mengimpor dari Angola, beberapa negara Afrika, hingga Brasil. Diversifikasi sumber ini jadi modal penting agar kita nggak bergantung pada satu kawasan saja.

"Strateginya adalah bagaimana kita tidak terperangkap dengan dinamika global. Karena ketegangan ini betul-betul sulit diprediksi,"

pungkas Bahlil.

Jadi, langkah pengalihan ini lebih seperti siasat darurat. Sebuah manuver untuk tetap bertahan saat salah satu urat nadi energi dunia terputus secara tiba-tiba.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar