Pemerintah Jamin Harga Pertalite Tak Naik Sampai Lebaran 2026

- Rabu, 04 Maret 2026 | 18:15 WIB
Pemerintah Jamin Harga Pertalite Tak Naik Sampai Lebaran 2026

Harga Pertalite bakal tetap stabil di angka Rp10 ribu per liter. Itu janji Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, yang menyebut harga subsidi itu tak akan berubah hingga Lebaran 2026 nanti. Padahal, situasi di Timur Tengah lagi panas dan harga minyak dunia pun merangkak naik. Tapi, menurut Bahlil, pemerintah sudah siap menanggung selisihnya.

“Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan hari raya tidak ada kenaikan apa-apa,” tegas Bahlil di Istana Negara, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Dia bilang, rapat dengan Dewan Energi Nasional sudah dilakukan. Stok BBM untuk menyambut Lebaran pun sudah diantisipasi. Jadi, masyarakat tak perlu khawatir.

Namun begitu, ceritanya bakal beda untuk BBM nonsubsidi. Jenis yang satu ini harganya akan tetap mengikuti mekanisme pasar. Naik-turunnya harga minyak mentah dunia bakal langsung berpengaruh. “Sekalipun ada terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran, tetapi kalau untuk harga BBM yang non subsidi itu memang mekanisme pasar,” ujarnya.

Di sisi lain, Bahlil juga memastikan ketersediaan stok energi dalam negeri, baik BBM maupun LPG, akan cukup selama periode Lebaran yang biasanya konsumsinya melonjak. Menurutnya, stok yang ada saat ini bisa memenuhi kebutuhan hingga 21 hari ke depan.

Memang, kapasitas penyimpanan kita terbatas. “Itu kemampuan kita,” akunya soal daya tampung yang hanya bertahan sekitar 21 sampai 25 hari.

Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran ini jelas bikin pusing. Dampaknya nyata ke harga dan kelancaran pasokan. Belum lagi isu penutupan Selat Hormuz yang jadi jalur penting pengiriman minyak. Nah, untuk mengatasi ini, pemerintah main aman. Mereka akan mengalihkan sumber impor.

“Setelah tadi kita detailing, total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen,” jelas Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (3/3/2026).

Skenarionya, minyak mentah yang biasanya diambil dari Timur Tengah akan dialihkan ke Amerika. Dengan begitu, impor tidak perlu melalui Selat Hormuz yang rawan gangguan.

Untuk LPG, strateginya mirip. Sekitar 30 persen impor LPG Indonesia masih bergantung pada Timur Tengah. Porsi ini rencananya akan dicari dari negara lain. “Alternatifnya adalah kita switch lagi supaya kita tidak mau ambil risiko,” kata Bahlil soal upaya memenuhi kebutuhan nasional yang mencapai 7,8 juta ton per tahun ini.

Intinya, pemerintah berusaha keras menjaga stabilitas harga dan pasokan di tengah gejolak global. Warga bisa bernapas lega untuk harga Pertalite, setidaknya hingga Lebaran dua tahun mendatang. Tapi untuk jenis BBM lain, siap-siap saja kalau harganya ikut pasar berubah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar