Konsumsi Susu RI Paling Rendah di ASEAN, Baru 17,76 Liter per Kapita per Tahun

- Rabu, 03 Juni 2026 | 02:15 WIB
Konsumsi Susu RI Paling Rendah di ASEAN, Baru 17,76 Liter per Kapita per Tahun

Tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat rendah dan menjadi yang paling tertinggal di antara negara-negara ASEAN. Data terbaru menunjukkan angka konsumsi susu per kapita di Indonesia pada 2022 baru mencapai 17,76 liter per tahun, jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia yang mencapai 42,49 liter, Singapura 46,1 liter, dan Vietnam 37,21 liter per kapita per tahun.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi tersebut dalam konferensi pers Peringatan Hari Susu Nusantara di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026). Menurutnya, angka ini menjadi cerminan masih rendahnya kesadaran dan akses masyarakat terhadap susu sebagai sumber gizi penting.

"Konsumsi susu di Indonesia ini masih cukup rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya," kata Merrijantij.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian bersama para pelaku industri mulai mendorong peningkatan konsumsi susu nasional. Langkah ini dinilai strategis untuk mendukung terciptanya sumber daya manusia yang unggul menuju target Indonesia Emas 2045. Pemerintah juga melihat adanya peluang besar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan serapan susu dalam negeri.

Namun, tantangan masih membayangi. Merrijantij mengakui bahwa kapasitas filling unit untuk memenuhi volume yang ditetapkan dalam program MBG belum sesuai harapan. "Kami menyadari ini masih ada ketertinggalan dalam suplainya mengingat memang selama ini kapasitas filling unit untuk volume yang ditetapkan di MBG ini masih belum sesuai dengan harapan," ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, mengungkapkan bahwa produksi susu dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan nasional. Sebanyak 75 persen sisanya masih bergantung pada impor. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan.

"Ini juga yang menjadi program kita bersama bagaimana meningkatkan jumlah populasi sapi perah di dalam negeri dan yang kemudian peningkatan produktifitasnya," katanya.

Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah terus mendorong peningkatan populasi sapi perah serta produktivitas peternak. Saat ini, produktivitas sapi perah di Indonesia masih berada di bawah 20 liter per ekor per hari. Makmun menargetkan angka tersebut dapat meningkat menjadi di atas 20 liter per hari, bahkan mencapai 25 liter per hari seperti di sejumlah negara produsen susu lainnya. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian pangan dan gizi nasional dalam jangka panjang.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar