Tarif anyar itu resmi berlaku mulai Selasa dan direncanakan bakal berjalan selama 150 hari ke depan.
Menanggapi kenaikan dari 10% ke 15% itu, Greer punya penjelasan. Menurutnya, angka 15 persen itu adalah batas maksimal yang diizinkan oleh hukum untuk diberlakukan oleh seorang presiden. Jadi, sudah di ujung tanduk.
Wartawan juga menyodorkan fakta bahwa kebijakan tarif agresif Trump ini sebenarnya kurang populer di mata publik Amerika, berdasarkan sejumlah jajak pendapat. Tapi Greer punya argumen politik yang solid.
Jadi, situasinya sekarang begini: pemerintah AS berusaha meyakinkan dunia bahwa perjanjian lama masih aman, sambil bersiap menghadapi gelombang tarif baru yang justru bisa memicu ketegangan segar. Dua pesan yang agak bertolak belakang, tapi itulah yang terjadi.
Artikel Terkait
Arab Saudi Resmi Tutup Visa Haji Furoda untuk Tahun 2026
Pemerintah Izinkan Maskapai Naikkan Fuel Surcharge hingga 38% Imbas Harga Avtur Melonjak
Pemerintah Tegaskan WFH untuk Swasta Hanya Imbauan, Bukan Kewajiban
Heineken Gelar Kampanye Fans Have More Friends, Tawarkan 7 Tiket ke Final Liga Champions