Seorang pria berusia 29 tahun, Hendi, ditemukan meninggal di rumahnya di Palopo, Kamis pagi lalu. Lokasinya di Kelurahan Purangi, Kecamatan Sendana. Penemuan ini mengakhiri rentetan perilaku aneh yang ditunjukkan korban dalam beberapa hari terakhir.
Menurut kesaksian Asruddin, malam sebelum kejadian, sekitar pukul setengah satu dini hari, ia sempat berpapasan dengan Hendi.
"Dia minta saya datang ke rumahnya besok pagi," ujar Asruddin.
Tak lama setelah pertemuan singkat itu, telepon dari Hendi pun masuk. Isinya membuat Asruddin bergidik. Hendi menyebut bahwa pertemuan mereka tadi adalah yang terakhir kalinya. Perkataan itu seperti sebuah isyarat yang suram.
Namun begitu, itu bukan satu-satunya kejadian yang mengkhawatirkan. Sehari sebelumnya, Hendi dilaporkan mengancam seorang tetangga bernama Hasan yang berusia 67 tahun. Ancaman dengan parang itu begitu menakutkan, hingga keluarga Hasan memilih mengungsi dan menginap di rumah anak mereka, ibu Aisyah, demi keamanan.
Dua hari sebelum ancaman dengan parang, Hendi bahkan sempat meminta racun tikus kepada Hasan. Permintaan itu, untungnya, tidak dikabulkan.
Keesokan paginya, sekitar pukul 07.30, tragedi itu akhirnya terbuka. Aisyah, putri Hendi yang baru berusia 10 tahun, hendak mengambil handphone. Melalui jendela, gadis kecil itu melihat ayahnya tergantung. Pintu rumah tertutup rapat, bahkan terganjal kursi dari dalam.
Dengan panik, Aisyah melaporkan hal ini kepada Hasan. Bersama ibu Aisyah, mereka bergegas ke rumah untuk memastikan. Yang mereka temukan adalah Hendi yang sudah tak bernyawa, dengan sarung terlilit kencang pada rangka atap.
Keluarga kemudian memutuskan untuk menurunkan jenazah sekitar pukul sembilan pagi, dengan memotong sarung di leher almarhum. Polisi dari Polsek Wara Selatan tiba seperempat jam kemudian, lalu berkoordinasi dengan Polres Palopo. Tim INAFIS pun turun tangan melakukan olah TKP.
Kapolsek Wara Selatan, IPTU Yusran Sa’buran, membenarkan peristiwa ini. Ia menyebut keluarga memilih untuk tidak melakukan autopsi.
"Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhum. Pihak keluarga telah membuat surat pernyataan penolakan autopsi dan menyatakan tidak keberatan atas meninggalnya almarhum," jelas Yusran.
Di akhir pernyataannya, dia mengimbau masyarakat agar lebih peka dan peduli pada kondisi keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Setelah semua proses pemeriksaan selesai, jenazah Hendi pun diserahkan kepada keluarganya untuk dimakamkan sesuai tradisi.
Artikel Terkait
Petani Muda di Luwu Utara Jadi Korban Pembusuran saat Cari Pelaku yang Serang Adiknya, Dua Orang Diamankan
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Sulawesi Selatan Siang Ini
Presiden Prabowo Tiba di Paris, Akan Salat Idul Adha Bersama WNI di Prancis
Kebakaran Hanguskan Rumah Produksi Tahu Goreng di Asahan, Tidak Ada Korban Jiwa