Pernyataan Dwi dalam video itu memang menyulut banyak reaksi. Video yang menunjukkan surat dari Home Office Britania Raya itu diiringi caption yang cukup menusuk: "I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu."
Tak pelak, unggahan itu memicu kemarahan. Apalagi, Dwi dan suaminya, Arya Iwantoro, diketahui merupakan penerima beasiswa LPDP yang dananya bersumber dari pajak rakyat. Meski Dwi sudah meminta maaf dan mengatakan ucapannya lahir dari frustrasi pribadi, gelombang kritik tak juga reda.
Di sisi lain, LPDP sebagai lembaga pemberi beasiswa pun tak tinggal diam. Mereka secara resmi menyatakan penyesalan atas tindakan alumninya tersebut. Alasannya, tindakan itu dinilai tidak mencerminkan nilai integritas dan etika yang selalu coba ditanamkan selama program beasiswa berlangsung.
Polemik ini, di satu sisi, menyisakan pertanyaan tentang komitmen dan rasa terima kasih. Di sisi lain, seperti disinggung Purbaya, ia jadi pengingat untuk tak mudah meragukan masa depan negeri sendiri. Hanya waktu yang bisa membuktikan siapa yang benar.
Artikel Terkait
Lalu Lintas Udara Indonesia Tumbuh 5% di Kuartal I 2026
ALTO Network Luncurkan Dua Platform untuk Permudah Pengelolaan Transaksi Digital
Menteri Keuangan Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Tembus 5,5 Persen
BPOM Peringatkan Bahaya Penyalahgunaan Gas Tertawa, Bisa Picu Ketergantungan hingga Kematian