Gas tertawa, atau yang secara kimiawi disebut dinitrogen monoksida (N2O), belakangan ramai dibicarakan. Bukan karena fungsinya di dunia medis, melainkan karena maraknya penyalahgunaan. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pun angkat bicara, membeberkan sederet dampak berbahaya dari menghirup gas ini secara sembarangan.
Menurut Kepala BPOM, Taruna, dalam konteks medis sebenarnya N2O punya peran penting. Gas ini digunakan sebagai anestesi, membantu proses sedasi sebelum operasi.
“Efek dinitrogen oksida itu sebetulnya gas medis yang digunakan di ruang anastesi atau ruang bius sebetulnya untuk membantu proses sedasinya. Sebelum pasien itu dioperasi, dengan penggunaan gas ini pasien akan mengantuk, kemudian hilang rasa cemasnya. Itu fungsi utamanya,” jelas Taruna di Kantor BPOM Jakarta Pusat, Kamis lalu.
Namun begitu, dia menyayangkan fenomena yang terjadi sekarang. Gas yang seharusnya menenangkan pasien di ruang operasi justru banyak disalahgunakan untuk sekadar mencari sensasi.
Orang yang menghirupnya di luar prosedur medis biasanya mengejar efek dopamin perasaan rileks dan hilangnya stres sesaat. Dari sinilah julukan "gas ketawa" muncul. Tapi di balik sensasi sementara itu, ancamannya nyata.
Dampak jangka pendeknya langsung terasa pada kehidupan sosial dan kontrol diri penggunanya. Mereka bisa kehilangan kendali. Nah, untuk jangka panjang, masalahnya jadi lebih serius: ketergantungan psikologis. Bedanya dengan narkotika, seperti dijelaskan Taruna, ketergantungan ini lebih bersifat psikis.
“Dampak jangka pendeknya, dia akan mengalami kendala dengan sekelilingnya, aspek sosialnya. Jangka panjangnya kan bisa menyebabkan ketergantungan, khususnya ketergantungan atau adiktif secara psikologis, karena dia merasakan, bukan zatnya ya, beda dengan narkotik kalau ini ketergantungan psikologis,” paparnya lebih lanjut.
Yang paling mengkhawatirkan, risiko ini bisa berlipat ganda. Apalagi kalau N2O dicampur dengan zat-zat lain dengan dosis tinggi. Kombinasi berbahaya itu bisa memicu hipoksia atau sesak napas parah.
“Bisa berdampak pada hal yang lebih parah lagi, apalagi kalau dipadukan dengan zat-zat yang di luar peruntukannya dengan dosis tinggi, menyebabkan sesak napasnya atau hipoksia, dan ujung-ujungnya kan bisa meninggal,” pungkas Taruna.
Jadi, meski namanya terdengar jenaka, konsekuensinya sama sekali tidak lucu. Dari gangguan sosial hingga ancaman nyawa, penyalahgunaan gas tertawa jelas bukan hal yang bisa dianggap remeh.
Artikel Terkait
Wamen Haji Larang Petugas Flexing di Medsos, Fokus pada Pendampingan Jamaah
Wamen Haji Ingatkan Petugas Fokus pada Jemaah, Bukan Flexing di Medsos
Brebes Siap Jadi Lokasi Peternakan Sapi Perah Terbesar, Targetkan 180 Ribu Ton Susu per Tahun
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah hingga 23 April