Langkah PT Agrinas Pangan Nusantara mengimpor 105 ribu unit pick up dari India buat logistik Koperasi Desa Merah Putih ternyata tak hanya jadi angin segar. Ada juga kekhawatiran yang mengikuti. Industri komponen dalam negeri, salah satunya, menatap rencana ini dengan perasaan was-was.
Yustinus H. Gunawan, Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP), menyoroti hal ini. Menurutnya, impor kendaraan niaga dalam bentuk utuh atau CBU itu perlu dikaji lebih dalam. “Perlu analisis komprehensif,” ujarnya, lewat keterangan tertulis yang diterima Sabtu (21/2/2026).
Baginya, kapasitas industri lokal harus jadi pertimbangan utama. Kalau tidak, sektor-sektor tertentu bisa terpukul.
“Industri kaca lembaran nasional saat ini memiliki kapasitas terpasang 2,9 juta ton per tahun,” jelas Yustinus.
Kapasitas itu dioperasikan empat perusahaan. Namun, tingkat pemanfaatannya baru sekitar 66,9 persen di tahun 2025. Artinya, masih ada ruang kosong yang cukup besar.
Di sisi lain, industri hilirnya yaitu sepuluh perusahaan kaca pengaman untuk kendaraan punya kapasitas 90.293 ton per tahun. Itu setara dengan 2,25 juta set kaca untuk kendaraan roda empat. Sayangnya, utilisasinya cuma 42 persen. Cukup rendah.
Nah, ketika kapasitas produksi kendaraan nasional sendiri mencapai 2,59 juta unit per tahun, struktur ini sebenarnya menunjukkan peluang. Peluang untuk mengoptimalkan apa yang sudah ada di dalam negeri. Impor CBU skala besar, seperti rencana Agrinas, berisiko memangkas permintaan terhadap komponen lokal.
Artikel Terkait
Pemerintah Fokuskan Distribusi Motor Listrik untuk Dukung Program Gizi di Daerah Terpencil
Pemerintah dan Arab Saudi Pastikan Haji 2026 Aman dan Biaya Turun Rp2 Juta
Pemerintah Jamin Biaya Haji 2026 Tak Naik Meski Ada Dampak Konflik Timur Tengah
Pemerintah Alokasikan Rp1,77 Triliun APBN untuk Tanggung Kenaikan Biaya Haji Akibat Lonjakan Avtur