Nasib buruk Jaros justru membuka jalan bagi Paes. Kiper berusia 27 tahun itu memang didatangkan sebagai pelapis pada bursa transfer musim dingin, menggantikan Remko Pasveer yang hengkang. Awalnya, posisinya jelas: kiper kedua. Namun, dengan hanya Jaros dan Pasveer yang pernah mendapat menit bermain musim ini, cedera itu otomatis mengangkat Paes menjadi nomor satu. Tanggung jawab besar kini ada di pundaknya.
Di sisi lain, situasi tim sebenarnya sedang membaik. Ajax belakangan ini menunjukkan tren positif di Eredivisie. Catatan mereka dalam 10 laga terakhir cukup solid: enam kemenangan dan empat hasil imbang. Mereka bahkan berhasil menaklukkan rival berat, Feyenoord Rotterdam, dengan skor 2-0.
Performa itu perlahan mendongkrak posisi mereka. Dari yang sempat terseok-seok, kini mereka bertengger di peringkat empat klasemen dengan 42 poin. Jarak dengan Feyenoord di posisi kedua pun tinggal tiga angka. Momentum ini tentu sayang untuk dihambat.
Nah, di tengah situasi tim yang sedang naik daun itulah Maarten Paes akan diuji. Debutnya datang bukan dalam kondisi darurat biasa, melainkan ketika ekspektasi untuk terus meraih poin sedang tinggi. Tantangan langsung dari NEC Nijmegen akan menjadi pembuktian pertama, apakah ia siap mengisi kekosongan yang ditinggalkan Jaros dan menjaga gawang klub sebesar Ajax.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan WFH untuk Swasta Hanya Imbauan, Bukan Kewajiban
Heineken Gelar Kampanye Fans Have More Friends, Tawarkan 7 Tiket ke Final Liga Champions
Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia