BNPP Soroti Peran Strategis Dai dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan

- Jumat, 10 April 2026 | 03:00 WIB
BNPP Soroti Peran Strategis Dai dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan

Di Sambas, seminar internasional yang digelar Selasa lalu (7/4) menyoroti peran yang tak biasa. Bukan cuma soal infrastruktur atau anggaran, tapi tentang kontribusi para dai. Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI menegaskan, sinergi para pendakwah ini sangat krusial untuk mendukung pembangunan di kawasan perbatasan negara.

Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, yang membuka acara, punya pandangan menarik. Menurutnya, peran dai tidak boleh berhenti di mimbar atau pengajian. Mereka mesti turut mendorong kemandirian masyarakat, terutama di daerah perbatasan seperti Sambas ini.

"Para dai harus ikut mendorong kemandirian ekonomi, kemandirian pangan, hingga kemandirian di berbagai sektor kehidupan masyarakat," tegas Wiyagus.

Ia melihat posisi dai sebagai penggerak sosial yang strategis. Mereka bisa menumbuhkan kesadaran kolektif. Di sisi lain, Wiyagus juga menyinggung soal prioritas pemerintah. Ia menekankan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memang menempatkan wilayah perbatasan sebagai fokus utama pembangunan nasional, lewat berbagai program yang sudah disiapkan.

Nah, pendekatannya sendiri ternyata mengalami pergeseran. Nur Kholis, Kelompok Ahli BNPP RI, menjelaskan bahwa pengelolaan perbatasan Indonesia kini tak lagi cuma soal keamanan. Ada pendekatan ganda yang diusung: keamanan dan kesejahteraan, atau security and prosperity.

"Indonesia tidak membangun tembok di perbatasan, tetapi membangun kesejahteraan," ujar Nur Kholis, Rabu (8/4).

Ia melanjutkan, batas negara memang harus tegas secara kedaulatan. Namun begitu, dari sisi ekonomi, justru harus jadi penopang penguatan ekonomi masyarakat di kedua sisi garis batas. Itulah esensi kebijakan yang coba dijalankan BNPP bersama kementerian dan lembaga terkait. BNPP sendiri berperan sebagai koordinator pengelolaan batas wilayah, baik darat maupun laut.

Paradigma ke depan jelas ingin mengubah citra. Perbatasan tidak boleh lagi selalu identik dengan keterbelakangan atau keterisolasian. Mimpi besarnya adalah menjadikannya sebagai beranda depan negara yang justru maju dan sejahtera. Potensinya besar mulai dari pertanian, perikanan, pariwisata, sampai perdagangan lintas batas. Tinggal bagaimana mengelolanya dengan optimal.

Sementara itu, dari tingkat daerah, Bupati Sambas Satono punya penekanan lain. Baginya, kunci kemajuan wilayah perbatasan ada pada sumber daya manusianya. Pembangunan SDM adalah fokus utama. Hanya dengan kualitas manusia yang mumpuni, segala potensi yang ada bisa dikelola secara maksimal dan berkelanjutan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar